-
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label sejarah islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah islam. Tampilkan semua postingan
03.02
Memata-matai Rasulullah, Khalid bin Walid Masuk Islam (2-Habis)
Written By Unknown on Sabtu, 05 April 2014 | 03.02
KHALID berangkat seorang diri dengan menunggang kuda dan menggunakan
baju kebesarnnya yang berhias emas serta mahkota bertahta berlian namun
wajahnya ditutupi topeng. Di tengah perjalanan, Khalid bertemu dengan
Bilal yang sedang bedakwah kepada para petani.
Dengan diam-diam Khalid mendengarkan dan menyimak apa yang di
sampaikan oleh Bilal yang membacakan surat Al-Hujarat (Qs 49:13) yang
artinya, “Hai manusia kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku suku
supaya kamu saling mengenal dengan baik. Sesungguhnya orang yang paling
mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang-orang yang paling
bertaqwa karena sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha Mengenal.”
Khalid terperangah. Ia berpikir bagaimana mungkin Bilal yang
diketahui sebagai budak hitam dan buta huruf bisa berbicara seindah dan
sehebat itu? Tentu itu benar perkataan dan Firman Allah.
Namun gerak gerik mencurigakan Khalid bin Walid diketahui Ali bin Abi
Thalib. Dengan lantang Ali berkata, “Hai penunggang kuda, bukalah
topengmu agar aku bisa mengenalimu. Bila niatmu baik, aku akan layani
dengan baik pula, dan bila niatmu buruk aku akan layani pula dengan
buruk.”
Setelah itu dibukalah topeng. Tampaklah wajah Khalid bin Walid,
seorang panglima besar kaum Kafir Quraisy yang berjaya di perang Uhud.
Dengan tatapan mata yang penuh karismatik, Khalid berkata, “Aku kemari
punya niat baik untuk bertemu Muhammad dan menyatakan diriku masuk
Islam.”
Wajah Ali yang sempat tegang berubah menjadi berseri-seri, “Tunggulah
kau di sini, Khalid. Saya akan sampaikan berita gembira ini kepada
Rasulullah SAW,” kata Ali bi Abi thalib.
Bergegas Ali menemui Rasulullah SAW dan menyampaikan maksud
kedatangan Khalid bin Walid, sang panglima perang. Mendengar berita yang
disampaikan Ali, wajah Rasulullah SAW berseri-seri lalu mengambil
sorban hijau miliknya, lalu dibentangkan di tanah sebagai tanda
penghormatan kepada Khalid bin Walid yang akan datang menemuinya.
Lalu Rasulullah SAW menyuruh Ali menjemput Khalid untuk menemuinya. Begitu Khalid datang, Rasulullah langsung memeluknya.
”Ya Rasulullah, islam saya” kata Khalid bin Walid. Lalu Rasulullah
SAW mengajarkan kalimat syahadat kepada Khalid, maka Khalid bin Walid
telah memeluk agama Islam.
Begitu selesai membaca syahadat, Khalid bin Walid menanggalkan
mahkotanya, yang bertahtahkan intan diserahkan kepada Rasulullah, begitu
pula dengan bajunya yang berkancingkan emas diserahkan juga kepada
Rasulullah SAW.
Namun begitu, ketika Khalid bin Walid akan mencopot pedangnya dan
menyerahkannya kepada Rasulullah, Rasul melarangnya ”Jangan kaulepaskan
pedang itu, Khalid, karena dengan pedang itu nanti engkau akan berjuang
membela agama Allah bersamaku,” kata Rasul. Dan Nabi memberi gelar
pedang tersebut dengan nama “Syaifullah” yang artinya “pedang Allah yang
terhunus.”
Setelah bergabungnya Khalid bin Walid dalam Islam, bertambah kuatlah
pasukan Muslim hingga bisa menaklukan kota Mekkah dan pasukan Kafir
Quraiys secara drastis melemah bagaikan ayam kehilangan induknya.
[SUmber: sachrony]
HABIS.
sumber : http://www.islampos.com/memata-matai-rasulullah-khalid-bin-walid-masuk-islam-2-habis-103152/
Label:
islampos.com
,
sejarah islam
03.02
Memata-matai Rasulullah, Khalid bin Walid Masuk Islam (1)
DAHULU sebelum masuk Islam Nama Khalid bin Walid sangat termashur
sebagai panglima Tentara Kaum Kafir Quraisy yang tak terkalahkan. Baju
kebesarannya berkancingkan emas dan mahkota dikepalanya bertahtahkan
berlian. Begitu gagah dan perkasanya Khalid, baik di Medan perang maupun
ahli dalam menyusun strategi perang.
Pada waktu Perang Uhud melawan tentara Muslimin pimpinan Rasululloh
SAW banyak syuhada yang syahid terbunuh di tangan Khalid bin Walid.
Dengan dengan suara lantang di atas perbukitan, Khalid bin Walid
berkata, “Hai Muhammad, kami sudah menang, kamu telah kalah dalam
peperangan ini… Lihatlah pamanmu Hamzah yang tewas tercabik cabik
tubuhnya dan lihatlah pasukanmu yang telah porak poranda.”
Rasulullah SAW menjawab, “Tidak, aku yang menang dan engkau yang
kalah, Khalid … Mereka yang gugur adalah syahid. Sebenarnya mereka tidak
mati, wahai Khalid, mereka hidup di sisi Allah SWT penuh dengan
kemuliaan dan kenikmatan. Mereka telah berhasil pindah alam dari dunia
menuju akhirat menuju surga Allah karena membela Agama Allah, gugur
sebagai syuhada.
“Akan tetapi,” ujar Rasulullah lagi, “Matinya tentaramu, matinya sebagai kafir dan dimasukkan ke neraka Jahannam.”
Mendengar itu, Khalid memerintahkan pasukannya untuk kembali. Sejak
itu Khalid termenung dan ia terngiang selalu akan kata-kata Nabi
Muhammad SAW dan penasaran akan sosok Muhammad SAW . Maka Khalid
mengutus mata-mata untuk memantau dan mengamati aktivitas Muhammad SAW
setelah perang Uhud tersebut.
Setelah cukup lama memata-matai Rasulullah, akhirnya utusan Khalid
bin Walid melaporkan hasil pengamatan tersebut. Kata utusan tersebut,
“Aku mendengar semangat juang yang dikemukakan Muhammad kepada para
pasukannya. Muhammad mengatakan, ‘Aku heran kepada seorang panglima;
Khalid bin Walid gagah perkasa dan cerdas, tapi kenapa dia tidak paham
dengan agama Allah yang aku bawa. Sekiranya Khalid bin Walid tahu dan
paham dengan agama yang aku bawa, dia akan berjuang bersamaku. Khalid
akan aku jadikan juru rundingku yang duduk bersanding di sampingku’.”
Kata kata tersebut disampaikan mata-mata Khalid bin Walid di Mekkah kepada panglimanya.
Mendengar laporan mata-mata tersebut, Khalid bin Walid semakin risau
hingga akhirnya Khalid memutuskan untuk bertemu Muhammad dengan menyamar
dan menggunakan topeng menutup wajahnya hingga tidak dikenali oleh
siapapa pun.
BERSAMBUNG
sumber : http://www.islampos.com/memata-matai-rasulullah-khalid-bin-walid-masuk-islam-1-102221/
Label:
islampos.com
,
sejarah islam
01.38
Haji Terakhir Rasulullah
Written By Unknown on Kamis, 31 Oktober 2013 | 01.38
BEGITU orang mengetahui bahwa Nabi SAW telah menetapkan akan pergi haji dan mengajak mereka ikut serta, tersiarlah ajakan itu ke segenap penjuru semenanjung.
Beribu-ribu orang datang ke Madinah dari segenap penjuru: dari kota-kota dan dari pedalaman, dari gunung-gunung dan dari sahara, dari seluruh pelosok tanah Arab yang membentang luas.
Di sekitar kota Madinah sudah pula dipasang kemah-kemah untuk 100.000 orang atau lebih, yang datang memenuhi seruan Nabi SAW. Mereka datang sebagai saudara untuk saling mengenal satu sama lain. Mereka dipertalikan semua oleh rasa kasih sayang, oleh keikhlasan hati dan ukhuwah islamiyah.
Berkumpulnya kaum Muslimin itu menggambarkan adanya suatu kebenaran yang telah mendapat kemenangan, nur Ilahi telah tersebar luas, yang membuat mereka semua teguh bersatu seperti sebuah bangunan yang kukuh.
Pada tanggal 25 Zulka’dah tahun ke-10 Hijrah, Nabi berangkat dengan membawa semua istrinya. Beliau berangkat dengan diikuti jumlah manusia yang begitu melimpah—penulis-penulis sejarah ada yang menyebutkan 90.000 orang dan ada pula yang menyebutkan 114.000 orang. Mereka berangkat dipersatukan oleh iman, hati mereka diliputi kegembiraan dan keikhlasan, menuju ke Baitullah yang suci. Mereka hendak menunaikan kewajiban ibadah haji besar.
Ketika mereka sampai di Dzul Hulaifa, mereka berhenti dan tinggal selama satu malam di sana. Keesokan harinya, ketika Nabi sudah mengenakan pakaian ihram, kaum Muslimin yang lain juga memakai pakaian ihram. Mereka semua berjalan dengan pakaian yang sama. Dengan demikian, mereka telah melaksanakan suatu persamaan dalam arti yang sangat jelas.
Dengan seluruh kalbunya, Rasulullah SAW menghadapkan diri kepada Allah dengan mengucapkan talbiyah yang diikuti pula oleh kaum Muslimin dari belakang: “Labbaika Allahumma labbaika, labbaika la syarika laka labbaika… (Kupenuhi panggilan-Mu, ya Allah, kupenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu, kupenuhi panggilan-Mu…).”
Tatkala rombongan itu sampai di Sarif—suatu tempat antara jalan Makkah dengan Madinah—Rasulullah SAW berkata kepada para sahabatnya, “Barangsiapa dia ntara kamu tidak membawa binatang kurban dan ingin menjadikan (ihram) ini sebagai umrah, lakukanlah! Tetapi yang membawa binatang kurban jangan!”
Ketika jamaah haji sudah sampai di Makkah pada hari keempat Dzulhijjah, Nabi cepat-cepat menuju Ka’bah diikuti oleh kaum Muslimin yang lain. Kemudian beliau menyentuh Hajar Aswad dan menciumnya, lalu berthawaf di Ka’bah sebanyak tujuh kali. Pada tiga kali yang pertama, beliau berlari-lari seperti yang dilakukan pada waktu Umratul Qadza.
Setelah melakukan shalat di Maqam Ibrahim, beliau kembali dan sekali lagi mencium Hajar Aswad. Kemudian beliau keluar dari masjid itu menuju ke sebuah bukit di Shafa, lalu melakukan sa’i antara Shafa dan Marwa.
Sementara kaum Muslimin sedang menunaikan ibadah haji, Ali bin Abi Thalib pun kembali dari ekspedisinya ke Yaman. Ia sudah pula mengenakan pakaian ihram sebagai persiapan pergi haji setelah diketahuinya bahwa Rasulullah memimpin jamaah berhaji.
Pada hari kedelapan Dzulhijjah, yaitu Hari Tarwiyah, Rasulullah pergi ke Mina. Selama sehari itu, sambil melakukan kewajiban shalat, beliau tinggal dalam kemahnya itu. Begitu juga malamnya, sampai pada waktu fajar menyingsing pada hari haji. Selesai shalat Subuh, dengan menunggang untanya (Al-Qashwa’) tatkala matahari mulai tersembul, beliau menuju Gunung Arafah. Arus-manusia dari belakang mengikuti beliau.
Di Namira, sebuah desa sebelah timur Arafah, telah pula dipasang sebuah kemah buat Nabi atas permintaan beliau.
Ketika matahari sudah tergelincir, Rasulullah meminta Al-Qashwa, dan beliau berangkat lagi sampai di bilangan Uranah. Di tempat itulah, beliau memanggil kaum Muslimin. Sambil duduk di atas untanya, Rasulullah SAW berpesan kepada umat Islam.
Setelah mengucapkan syukur dan pujian kepada Allah, beliau bersabda,“Wahai manusia sekalian, perhatikanlah kata-kataku ini! Aku tidak tahu, kalau-kalau sesudah tahun ini—dalam keadaan seperti ini—tidak lagi akan bertemu dengan kamu sekalian.”
“Saudara-saudara, bahwasannya darahmu dan harta bendamu sekalian adalah suci buat kamu. Seperti hari ini dan bulan ini yang suci, sampai datang masanya kamu sekalian menghadap Allah. Dan pasti kamu akan menghadap Allah. Pada waktu itu, kamu dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatanmu. Ya, aku sudah menyampaikan ini. Barangsiapa telah diserahi amanah, tunaikanlah amanah itu kepada yang berhak menerimanya!”
“Bahwa semua riba sudah tidak berlaku. Tetapi kamu berhak menerima kembali modalmu. Janganlah kamu berbuat aniaya terhadap orang lain, dan jangan pula kamu teraniaya. Allah telah menentukan bahwa tidak boleh lagi ada riba. Dan bahwa riba Abbas bin Abdul Muthalib sudah tidak berlaku semuanya.”
“Bahwa semua tuntutan darah selama masa jahiliah tidak berlaku lagi, dan tuntutan darah pertama yang kuhapuskan ialah darah Ibnu Rabi’ah bin Harits bin Abdul Muthalib.”
“Kemudian daripada itu saudara-saudara. Hari ini nafsu setan yang minta disembah di negeri ini sudah putus buat selama-lamanya. Namun, kalau kamu turutkan dia walaupun dalam hal yang kamu anggap kecil—yang berarti merendahkan segala amal perbuatanmu—niscaya akan senanglah dia. Oleh karena itu, peliharalah agamamu ini baik-baik!”
“Saudara-saudara, menunda-nunda berlakunya larangan bulan suci berarti memperbesar kekufuran. Dengan itu orang-orang kafir itu tersesat. Pada satu tahun mereka melanggar dan pada tahun lain mereka sucikan, untuk disesuaikan dengan jumlah yang sudah disucikan Tuhan. Kemudian mereka menghalalkan apa yang sudah diharamkan Allah dan mengharamkan mana yang sudah dihalalkan.”
“Kemudian daripada itu, saudara-saudara. Sebagaimana kamu mempunyai hak atas istri kamu, juga istrimu sama mempunyai hak atas kamu. Hakmu atas mereka ialah untuk tidak mengizinkan orang yang tidak kamu sukai menginjakkan kaki ke atas lantaimu, dan jangan sampai mereka secara jelas membawa perbuatan keji.”
“Kalau sampai mereka melakukan semua itu, Allah mengizinkan kamu berpisah tempat tidur dengan mereka dan boleh memukul mereka dengan suatu pukulan yang tidak sampai melukai. Bila mereka sudah tidak lagi melakukan itu, maka kewajiban kamulah memberi nafkah dan pakaian kepada mereka dengan baik. Berlaku baiklah terhadap istrimu. Mereka itu kawan-kawan yang membantumu, mereka tidak memiliki sesuatu untuk diri mereka. Kamu mengambil mereka sebagai amanah Allah, dan kehormatan mereka dihalalkan buatmu dengan nama Allah.”
“Perhatikanlah kata-kataku ini, saudara-saudara. Aku sudah menyampaikan ini. Ada dua hal yang kutinggalkan di tanganmu, yang jika kamu pegang teguh, kamu takkan sesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan sunnah Rasulullah.”
“Wahai manusia sekalian, dengarkan kata-kataku ini dan perhatikanlah! Kamu akan mengerti bahwa setiap Muslim adalah saudara buat Muslim yang lain. Dan kaum Muslimin semua bersaudara. Tetapi, seseorang tidak dibenarkan (mengambil sesuatu) dari saudaranya, kecuali jika dengan senang hati diberikan kepadanya. Janganlah kamu menganiaya diri sendiri. Ya Allah, Sudahkah kusampaikan?”
Setelah sampai pada penutup kata-katanya itu, Rasulullah berkata lagi, “Ya Allah, sudahkah kusampaikan?”
Maka serentak kaum Muslimin dari segenap penjuru orang menjawab, “Ya!”
Lalu Rasulullah berkata, “Ya Allah, saksikanlah ini!”
Selesai mengucapkan pidatonya, Rasulullah turun dari Al-Qashwa’. Beliau masih di tempat itu sampai pada waktu shalat Dzuhur dan Ashar. Kemudian beliau menaiki kembali untanya menuju Shakharah.
Pada waktu itulah, Rasulullah membacakan firman Allah kepada mereka:“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”QS. Al-Maa’idah: 3)
Mendengarkan ayat tersebut, Abu Bakar menangis. Ia merasa bahwa risalah Nabi SAW sudah selesai dan sudah dekat pula saatnya Nabi hendak menghadap Allah.
Setelah meninggalkan Arafah malam itu, Nabi bermalam di Muzdalifah. Pagi-pagi beliau bangun dan turun ke Masy’aril Haram, kemudian pergi ke Mina. Dan dalam perjalanan itu, beliau melemparkan batu-batu kerikil. Ketika sudah sampai di kemah, Rasulullah menyembelih 63 ekor unta. Kemudian Nabi mencukur rambut dan menyelesaikan ibadah hajinya.
Dengan selesainya ibadah haji ini, ada orang yang menamakannya ‘Ibadah Haji Perpisahan (Wada’), yang lain menyebutkan ‘Ibadah Haji Penyampaian’, ada lagi yang mengatakan ‘Ibadah Haji Islam’. Nama-nama itu memang benar semua.
Disebut ‘Ibadah Haji Perpisahan’ karena ini yang penghabisan kali Rasulullah melihat Makkah dan Ka’bah. Dengan ‘Ibadah Haji Islam’, karena Allah telah menyempurnakan agama ini kepada umat manusia dan mencukupkan pula nikmat-Nya. ‘Ibadah Haji Penyampaian’ berarti Nabi telah menyampaikan kepada umat manusia apa yang telah diperintahkan Allah SWT kepadanya. Tiada lain, Muhammad SAW hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira kepada orang-orang beriman. [Sumber: Sejarah Hidup Muhammad oleh Muhammad Husain Haekal]
sumber : http://www.islampos.com/
Label:
islampos.com
,
sejarah islam
01.36
Detik-Detik Kekhalifahan Umar Bin Abdul Azis
UMAR bin Abdul Azis menjadi khalifah menggantikan Sulaiman yang wafat pada tahun 716. Ia dibai’at sebagai khalifah pada hari Jumat setelah shalat Jumat. Hari itu juga setelah ashar, rakyat dapat langsung merasakan perubahan kebijakan khalifah baru ini. Khalifah Umar, masih satu nasab dengan Khalifah kedua, Umar bin Khattab dari garis ibu.
Zaman pemerintahannya berhasil memulihkan keadaan negaranya dan mengondisikan negaranya seperti saat 4 khalifah pertama (Khulafaur Rasyidin) memerintah. Kebijakannya dan kesederhanaan hidupnya pun tak kalah dengan 4 khalifah pertama itu.
Gajinya selama menjadi khalifah hanya 2 dirham (atau sekitar Rp 60 ribu) per hari atau 60 dirham perbulan. Karena itu banyak ahli sejarah menjuluki beliau dengan Khulafaur Rasyidin ke-5. Khalifah Umar ini hanya memerintah selama tiga tahun kurang sedikit. Menurut riwayat, beliau meninggal karena dibunuh (diracun) oleh pembantunya.
Sebelum menjabat
Menjelang wafatnya Sulaiman, penasihat kerajaan bernama Raja’ bin Haiwah menasihati beliau, “Wahai Amirul Mukminin, antara perkara yang menyebabkan engkau dijaga di dalam kubur dan menerima syafaat dari Allah di akhirat kelak adalah apabila engkau tinggalkan untuk orang Islam khalifah yang adil, maka siapakah pilihanmu?”
Jawab Khalifah Sulaiman, “Aku melihat Umar Ibn Abdul Aziz.”
Surat wasiat diarahkan supaya ditulis nama Umar bin Abdul-Aziz sebagai penerus kekhalifahan, tetapi dirahasiakan darai kalangan menteri dan keluarga. Sebelum wafatnya Sulaiman, beliau memerintahkan agar para menteri dan para gubernur berbai’ah dengan nama bakal khalifah yang tercantum dalam surat wasiat tersebut.
Naiknya Umar sebagai Amirul Mukminin
Seluruh umat Islam berkumpul di dalam masjid dalam keadaan bertanya-tanya, siapa khalifah mereka yang baru. Raja’ Ibn Haiwah mengumumkan, “Bangunlah wahai Umar bin Abdul-Aziz, sesungguhnya nama engkaulah yang tertulis dalam surat ini.”
Umar bin Abdul-Aziz bangkit seraya berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya jabatan ini diberikan kepadaku tanpa bermusyawarah dahulu denganku dan tanpa pernah aku memintanya, sesungguhnya aku mencabut bai’ah yang ada dileher kamu dan pilihlah siapa yang kalian kehendaki.”
Umat tetap menghendaki Umar sebagai khalifah dan Umar menerima dengan hati yang berat, hati yang takut kepada Allah dan tangisan. Segala keistimewaan sebagai khalifah ditolak dan Umar pulang ke rumah.
Ketika pulang ke rumah, Umar berpikir tentang tugas baru untuk memerintah seluruh daerah Islam yang luas dalam kelelahan setelah mengurus jenazah Khalifah Sulaiman bin Abdul-Malik. Ia berniat untuk tidur.
Pada saat itulah anaknya yang berusia 15 tahun, Abdul-Malik masuk melihat ayahnya dan berkata, “Apakah yang sedang engkau lakukan, wahai Amirul Mukminin?”
Umar menjawab, “Wahai anakku, ayahmu letih mengurusi jenazah bapak saudaramu dan ayahmu tidak pernah merasakan keletihan seperti ini”.
“Jadi apa engkau akan perbuat, wahai ayah?” tanya anaknya ingin tahu.
Umar membalas, “Ayah akan tidur sebentar hingga masuk waktu zuhur, kemudian ayah akan keluar untuk salat bersama rakyat.”
Apa pula kata anaknya apabila mengetahui ayahnya Amirul Mukminin yang baru “Ayah, siapa pula yang menjamin ayah masih hidup sehingga waktu zuhur nanti sedangkan sekarang adalah tanggungjawab Amirul Mukminin mengembalikan hak-hak orang yang dizalimi?”
Umar ibn Abdul Aziz terus terbangun dan membatalkan niat untuk tidur, beliau memanggil anaknya mendekati beliau, mengucup kedua belah mata anaknya sambil berkata “Segala puji bagi Allah yang mengeluarkan dari keturunanku, orang yang menolong aku di atas agamaku.”
sumber : http://www.islampos.com/
Label:
islampos.com
,
sejarah islam
22.29
Benarkah Islam Disebarkan Oleh Pedang? (2)
Written By Unknown on Rabu, 30 Oktober 2013 | 22.29
PARA prajurit dan pemimpin pasukan yang menaklukan di Mesir, Suriah, Iraq, dan Persia merupakan generasi pertama umat Islam. Banyak dari mereka bahkan sahabat Nabi. Apa yang akan terjadi ketika ekspansi Muslim berlanjut, saat tentara Muslim melawan Bizantium lanjut Barat, di Afrika Utara dan kemudian, di Spanyol?
Mayoritas penduduk pantai Afrika Utara di tahun 600 SM adalah Barbar. Sementara Kekaisaran Bizantium menguasai sebagian besar pantai dari Mesir ke Aljazair, orang-orang dari daerah-daerah yang umumnya tidak setia kepada Bizantium yang mengalami kesulitan besar mencoba untuk menaklukkan wilayah tersebut. Pergolakan politik dan sosial di abad sebelum Islam menyebabkan wilayah ini terkena bencana.
Ketika Khalifah Umayyah, Muawiyah, menunjuk seorang jenderal, Uqba bin Nafi, untuk menaklukkan pantai Afrika Utara dari Bizantium pada tahun 660 SM tersebut, sekali lagi, tanpa menyebutkan rincian strategi dan pertempuran, dalam beberapa dekade, kontrol Muslim di Afrika Utara diperketat.
Pola yang sama kita lihat di Asia Barat Daya berlanjut di Afrika Utara. Orang di wilayah ini sama sekali tidak dipaksa untuk masuk Islam. Tidak ada satu pun sumber, baik oleh Islam maupun non-Muslim, menyebutkan bangsa Barbar masuk Islam dengan paksaan. Kenyataannya memang banyak bangsa Barbar yang masuk Islam cukup cepat dan langsung memperkuat barisan tentara Muslim.
Seandainya para Barbar ini dipaksa masuk Islam, tentu mereka pun tidak akan bersemangat dan antusias untuk bergabung dengan militer Islam.
Setelah penaklukan Afrika Utara, datang sebuah proposal yang mengubah sejarah dunia selamanya. Pada tahun 700-an awal, Semenanjung Iberia (sekarang Spanyol dan Portugal) berada di bawah kendali Raja Visigoth Roderic. Seorang bangsawan dari Iberia yang dikirim pada gubernur Muslim Afrika Utara. Ia mengeluh tentang aturan yang menindas dan tiranical dari Roderic. Sang bangsawan berjanji untuk mendukung invasi Muslim melawan Roderic dengan pasukannya sendiri jika mereka melakukan intervensi.
Setelah serangan permulaan untuk mengukur dukungan penduduk lokal terhadap intervensi itu, Tariq bin Ziyad membawa tentara dari Maroko ke Iberia di tahun 711. Dalam beberapa bulan saja, pasukan Tariq berhasil mengalahkan Raja Roderic. Dalam waktu 3 tahun, seluruh Semenanjung Iberia berada di bawah kendali Muslim. Banyak kota yang kemudian menyuarakan tentang keadilan kekuasaan Islam, dan secara sukarela membuka pintu dan menyambut tentara Muslim, yang mengakhiri penindasan Visigoth.
Lebih banyak bukti dokumenter dari penaklukan ini yang membuktikan bahwa penaklukan Islam tidak berarti pemaksaan. Pada bulan April 713, seorang gubernur muslim di wilayah tersebut melakukan perjanjian dengan Visigoth, termasuk ketentuan bahwa masyarakat “tidak akan dibunuh atau ditawan. Tidak pula mereka dipisahkan dari perempuan dan anak-anak mereka. Mereka tidak akan dipaksa dalam hal agama, gereja-gereja mereka tidak akan dibakar.” (Kennedy, H. (2007). The Great Arab Conquests: How the Spread of Islam Changed the World We Live In. Philadelphia: Da Capo Press. pg.315).
Kita lihat satu lagi contohnya pada Muslim Spanyol (yang kemudian akan disebut sebagai al-Andalus) bahwa penduduk setempat (kebanyakan Kristen, meskipun populasi Yahudi yang cukup besar juga ada) tidak dipaksa untuk masuk Islam. Bahkan, dalam beberapa abad kemudian, masyarakat bertoleransi terhadap semua agama yang ada di al-Andalus, di mana Muslim, Yahudi, dan Kristen mengalami zaman keemasan pengetahuan, budaya, dan filsafat.
Berbeda misalnya dengan masa Reconquista Kristen yang secara efektif, etnis Muslim dan Yahudi dibersihkan dari seluruh semenanjung itu. [sa/islampos/lost Islamic history]
BERSAMBUNG
sumber : http://www.islampos.com/
Label:
islampos.com
,
sejarah islam
22.28
Benarkah Islam Disebarkan Oleh Pedang? (1)
INI adalah tuduhan umum yang dibuat terhadap umat Muslim dan Islam secara umum: “Satu-satunya alasan Islam menjadi agama yang menyebar di dunia adalah karena agama ini disebarkan dengan pedang.” Ini adalah pernyataan favorit kaum Islamofobia, para analis dan sejarawan yang takut akan ancaman Islam pada Dunia Barat. Ini sudah lama menjadi sebuah topik hangat yang diperdebatkan, dan adalah tepat untuk menganalisis dan mempelajari topik ini untuk lebih memahami apakah sah atau tidak.
Mesir, Suriah, Iraq, dan Persia – Penaklukan Pertama
Setelah periode pemerintahan Nabi Muhammad (SAW), ekspansi Islam sebenarnya dimulailah, atau pada awal tahun 630. Kampanye melawan Kerajaan Bizantium dan Sassanid (Persia) dimulai dengan prajurit Arab gurun melawan kerajaan kuno yang sudah mapan ratusan tahun dan berpusat di Konstantinopel dan Ctesiphon.
Abu Bakar, khalifah pertama Islam, mengeluarkan aturan kepada para tentara yang akan berperang:
“Berhentilah sejenak, hai pasukan, supaya aku bisa menerangkan dahulu kepada kalian aturan bagaimana kalian di medan perang. Jangan melakukan pengkhianatan atau menyimpang dari jalan yang benar. Kalian tidak boleh melakukan mutilasi mayat. Kalian tidak boleh membunuh seorang anak kecil, atau seorang wanita, atau seorang pria tua. Kalian tidak boleh merusak pohon, atau membakar pohon dengan api, khususnya yang tengah berbuah. Jangan sembelih ternak, simpanlah untuk persiapan makanan kalian. Kalian akan melewati orang-orang yang telah mengabdikan hidup mereka untuk layanan monastik, janganlah kalian ganggu mereka.” (Aboul-Enein, H. Yousuf and Zuhur, Sherifa, Islamic Rulings on Warfare, p. 22, Strategic Studies Institute, US Army War College, Diane Publishing Co., Darby PA)
Di semua sejarah perang, aturan-aturan ini sangat unik dan inovatif. Jauh sebelum penyebaran Islam, Persia dan Bizantium telah memulai perang selama puluhan tahun mulai dari Suriah sampai Iraq dan menjadikannya reruntuhan. Abu Bakar menjelaskan bahwa tentara Muslim tidak beroperasi dengan prinsip yang sama dan membatasi peperangan hanya dilakukan kepada tentara dan pemerintah musuh, bukan masyarakat umum. Hukum Syariah Islam, berdasarkan contoh dari Abu Bakr, jelas melarang penggunaan kekuatan terhadap siapa pun kecuali dalam kasus perang yang sah melawan musuh yang jelas. (Kennedy, H. (2007). The Great Arab Conquests: How the Spread of Islam Changed the World We Live In. Philadelphia: Da Capo Press. pg.91)
Secara tegas, Islam sudah mengatur keyakinan setiap orang sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Islam tidak pernah memaksa siapapun untuk meyakini Islam artinya sama sekali tidak dipaksa atau terpaksa untuk masuk Islam. Ketika terjadi penaklukan Yerusalem, khalifah pada saat itu, Umar ibn al-Khattab, menulis dalam perjanjian penyerahan dengan para leluhur kota:
“Ia [Umar] telah memberi mereka jaminan keamanan bagi diri mereka sendiri, untuk properti mereka, gereja-gereja mereka, salib mereka, orang sakit dan sehat. Gereja mereka tidak akan dihuni oleh kaum Muslim dan tidak akan dihancurkan … Mereka tidak akan dipaksa untuk masuk Islam.” (Kennedy, H. (2007). The Great Arab Conquests: How the Spread of Islam Changed the World We Live In. Philadelphia: Da Capo Press. pg.91).
Tidak ada kerajaan lain atau negara pada saat itu yang memiliki ide-ide toleransi beragama seperti ini. Umar, menjadi sahabat Nabi, yang pertama menetapkan preseden dalam perjanjian ini tentang pengobatan masyarakat yang ditaklukkan dalam hukum Islam. Ketika Mesir, Suriah, Iraq, dan Persia ditaklukan warga yang beragama Kristen, Yahudi, Sabian, atau Zoroastrian, diizinkan untuk menjaga tradisi keagamaan mereka.
Bukti itu masih ada sampai sekarang. Bahwa komunitas-komunitas Kristen banyak tersisa di negara-negara tersebut, misalnya Kristen Koptik di Mesir. Selama beberapa abad pertama setelah penaklukan Muslim, mayoritas penduduk daerah ini tetap Kristen. Perlahan, mereka mulai menyatakan Islam sebagai agama mereka dan bahasa Arab sebagai bahasa mereka. Hari ini, persentase orang Kristen di Mesir adalah 9%, Suriah 10%, Lebanon 39%, dan Iraq 3%. Jika di awal penaklukan negeri-negeri ini orang dipaksa masuk Islam, maka tidak akan ada komunitas Kristen di negara-negara tesrebut. Keberadaan mereka adalah bukti Islam tidak menyebar dengan pedang. [sa/islampos/lost Islamic history]
BERSAMBUNG
Label:
islampos.com
,
sejarah islam










