-
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label syiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label syiah. Tampilkan semua postingan
16.11
12 Persamaan Syi’ah dengan Yahudi
Written By Unknown on Selasa, 19 November 2013 | 16.11
Oleh: Muhammad Faisal, S.Pd, M.MPd (Aktivis Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat)
1. YAHUDI telah mengubah-ubah Taurat, begitu pula Syiah, mereka punya Al-Qur’an hasil kerajinan tangan mereka yakni “Mushaf Fathimah” yang tebalnya 3 kali Al-Qur’an kaum Muslimin. Mereka menganggap ayat Al-Qur’an yang diturunkan berjumlah 17.000 ayat, dan menuduh sahabat menghapus sepuluh ribu ayat lebih.
2. Yahudi menuduh Maryam yang suci berzina (QS. Maryam: 28), Syiah melakukan hal yang sama terhadap istri Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam, ‘Aisyah —radhiallohu ‘anha— sebagaimana yang diungkapkan Al-Qummi (pembesar Syiah) dalam Tafsir Al-Qummi (II/34).
3. Yahudi mengatakan, “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka melainkan hanya beberapa hari saja.” (QS. Al-Baqarah: 80). Syiah lebih dahsyat lagi dengan mengatakan, “Api neraka telah diharamkan membakar setiap orang Syiah,” sebagaimana tercantum dalam kitab mereka yang dianggap suci Fashl Kitab (hal.157).
4. Yahudi meyakini, Allah mengetahui sesuatu setelah terjadinya sesuatu itu padahal Allah tadinya tidak tahu, begitu juga dengan Syiah. Orang-orang Syiah menyebutnya sebagai akidah al bada’. Abu Abdillah berkata, “Seseorang belum dianggap beribadah kepada Allah sedikit pun, hingga ia mengakui adanya sifat bada’ bagi Alloh.” (Ushulul Kafi fi Kitabit Tauhid: 1/331).
Bayangkan, mereka menisbahkan kebodohan kepada Alloh yang telah berfirman, “Katakanlah, “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Alloh.” (QS. An-Naml: 65)
Sementara di sisi lain, mereka berkeyakinan bahwa para imam mereka mengetahui segala ilmu pengetahuan dan tak ada sedikit pun yang samar baginya. Al Kulaini, seorang ulama paling terpercaya di kalangan Syiah berkata di dalam bukunya, “Bab bahwa para imam mengetahui ilmu yang telah dan akan terjadi, dan tidak ada sesuatu apa pun yang tersembunyi bagi mereka.” (Al Kafi: 1/261).
5. Yahudi berkata, “Tidak layak (tidak sah) kerajaan itu melainkan di tangan keluarga Daud.” Syiah berkata, ”Tidak layak Imamah itu melainkan pada Ali dan keturunannya.”
6. Yahudi menghalalkan darah setiap muslim. Demikian pula Syiah, mereka menghalalkan darah Ahlussunnah/Sunni.
7. Yahudi tidak menetapkan adanya jihad hingga Alloh mengutus Dajjal. Syiah Rafidhah mengatakan, ”Tidak ada jihad hingga Allah mengutus Imam Mahdi datang.”
8. Orang-orang Yahudi memberikan kepemimpinan kepada anak keturunan Nabi Harun ‘alaihis salam, bukan keturunan Nabi Musa ‘alahis salam. Demikian pula orang-orang Syiah, mereka memberikan kepemimpinan kepada keturunan Al Husein radhiyallohu ‘anhu, bukan Al Hasan radhiyallohu ‘anhu.
Dalam riwayat orang-orang Syiah disebutkan, dari Hisyam bin Salim, dia berkata, “Aku berkata kepada Ash-Shadiq Ja’far bin Muhammad —‘alaihimas salam, manakah yang lebih utama Al Hasan atau Al Husein?” Maka dia berkata, “Al Hasan lebih utama dari Husein.” Aku berkata, “Lalu bagaimana bisa imamah setelah Al Husein ditampuk keturunan Al Husein, bukan keturunan Al Hasan?” Maka Ja’far berkata, “Sesungguhnya Alloh —Tabaraka wa Ta’ala— menyukai jika sunnah Musa dan Harun berlaku kepada Al Hasan dan Al Husein —‘alaihimas salam. Apakah engkau tidak melihat bahwasanya Musa dan Harun itu keduanya adalah nabi? Demikian pula Al Hasan dan Al Husein, keduanya adalah imam. Tapi, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan nubuwwah bagi keturunan Harun, bukan Musa, walaupun Musa lebih afdhal dari Harun —‘alaihimas salam.”
9. Syiah Imamiyah menetapkan 12 imam mereka untuk menyerupai jumlah pemimpin dari kalangan Bani Israil, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al Maidah: 12.
10. Orang-orang Yahudi membenci Jibril. Mereka mengatakan bahwa Jibril adalah musuh kita dari kalangan malaikat. Adapun Syiah berkata, Jibril telah keliru dalam menyampaikan wahyu kepada Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam. Mereka juga berkata, “Sesungguhnya Jibril ‘alaihis salam telah berkhianat ketika menyampaikan wahyu kepada Muhammad shallallohu ‘alaihi wasallam, padahal sepantasnya dan yang lebih berhak adalah Ali bin Abi Thalib radhiyallohu ‘anhu.”
Inilah Syiah, bagaimana bisa mereka menuduh Jibril ‘alaihis salam berkhianat, padahal Alloh Azza wa Jalla telah menyifatinya dengan al amin (yang dapat dipercaya) dalam firman-Nya, “Yang dibawa turun oleh ar-Ruh al Amin (Jibril).” (QS. As-Syu’ara: 193)
11. Yahudi sangat keras memusuhi kaum Muslimin, firman Alloh Azza wa Jalla, artinya: “Pasti kamu akan dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (QS. Al Maidah: 82)
Demikian pula dengan orang-orang Syiah, sangat memusuhi Ahlus Sunnah wal Jamaah, bahkan menganggap mereka sebagai najis.
12. Yahudi dan Syiah, keduanya tidak bersifat adil dalam memberikan kecintaan dan kebencian. Di satu sisi, Yahudi bersifat ghuluw terhadap sebagian nabi dan orang-orang shaleh mereka. Mereka menempatkannya sebagai sembahan yang diagungkan. Seperti perkataan mereka yang dikutip dalam al Qur’an, “’Uzair anak Alloh.” (Qs. At-Taubah: 30)
Namun di sisi lain, mereka mencela sebagian nabi dan menuduh mereka sebagai penjahat. Demikian pula dengan Syiah, Anda dapat melihat mereka berlebih-lebihan mengagungkan Ali radhiyallohu ‘anhu dan sebagian keturunan beliau, bahkan menempatkan mereka sebagai sembahan dan berkeyakinan bahwa Allah Azza wa Jalla bersatu dalam dzat mereka.
Namun di sisi lain, mereka mencela sahabat dan kaum Muslimin. Menuduh mereka munafik dan kafir.
Meski banyak memiliki persamaan, Yahudi dan Nasrani telah selangkah lebih maju dari Syiah dalam hal etika. Ketika orang-orang Yahudi ditanya, “Siapa penganut terbaik agama kalian?” Mereka menjawab, “Sahabat-sahabat Musa.” Orang-orang Nashrani pun ditanya dengan pertanyaan yang sama, jawaban mereka, “Para penolong ‘Isa.” Dan ketika orang-orang Syiah ditanya, “Siapa pengikut paling durhaka dari agama kalian?” Mereka menjawab, “Sahabat-sahabat Muhammad.”
Label:
bahaya syi'ah
,
islampos.com
,
syiah
16.07
Keistimewaan Mut’ah bagi Kaum Syiah
Written By Unknown on Minggu, 10 November 2013 | 16.07
MUT’AH memiliki keistimewaan yang besar di dalam aqidah Syi’ah Rafidhah, dikatakan dalam buku “Manhajus Shadiqin” yang ditulis oleh Fathullah Al Kasyani, dari Ash Shadiq bahwasanya mut’ah adalah bagian dari agamaku, dan agama nenek moyangku, dan barang siapa yang mengamalkannya berarti ia mengamalkan agama kami, dan barang siapa yang mengingkarinya berarti ia mengingkari agama kami, bahkan ia bisa dianggap beragama dengan selain agama kami, dan anak yang dilahirkan dari hasil perkawinan mut’ah lebih utama dari pada anak yang dilahirkan di luar nikah mut’ah, dan orang yang mengingkari nikah mut’ah ia kafir dan murtad.
Dinukil oleh Al-Qummy dalam bukunya “Maa laa Yudhrikuhul Faqih, dari Abdillah bin Sinan dari Abi Abdillah ia berkata “Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala mengharamkan atas orang-orang syi’ah segala minuman yang memabukkan, dan menggantikan bagi mereka dengan mut’ah.”
Syi’ah Rafidhah tidak membatasi jumlah tertentu dalam mut’ah, dikatakan dalam buku “Furu’ul Kaafi”, Ath-Thahdib, dan Al-Istibshar, dari Zurarah dari Abi Abdillah ia berkata, “Saya bertanya kepadanya tentang jumlah wanita yang dimut’ah, apakah hanya empat wanita? ia menjawab nikahilah (dengan mut’ah) dari wanita, meskipun itu 1000 (seribu) wanita, karena mereka (wanita-wanita ini) dikontrak.”
Orang Rafidhah tidak berhenti sampai di situ saja, bahkan mereka memperbolehkan mendatangi wanita (istri) dari duburnya (menyetubuhi istri dari jalan belakangnya).
Disebutkan dalam buku Al-Istibshar yang diriwayatkan dari Ali bin Al-Hakam, ia berkata, “Saya pernah mendengar Shafwan berkata” saya berkata kepada Ar-Ridha, “Seorang budak memperintah saya untuk bertanya kepadamu tentang suatu masalah yang mana ia malu menanyakan langsung kepadamu”, maka ia berkata, “Apa masalah itu?”, ia menjawab, “Bolehkah seorang laki-laki menyetubuhi istrinya dari duburnya”, maka ia menjawab, “Ya, boleh baginya”.
Bagaimana kita bisa menerima dan membenarkan nikah seperti ini, sementara Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,
“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka, atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela, barang siapa yang mencari dibalik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas” (QS.Al-Mu’minun : 5-7). [abang dani]
Label:
bahaya syi'ah
,
islampos.com
,
syiah
16.30
Ternyata orang Syiah tidak mengikuti imamnya
Written By Unknown on Rabu, 06 November 2013 | 16.30
JAKARTA (Arrahmah.com) - Syiah menuduh Wahabi melarang orang membangun kubur, ini karena syiah terganggu dengan tuduhan itu. Seperti diketahui, Syiah sangat mengagungkan kuburan orang shaleh.
Ternyata ajaran itu bukan berasal dari kaum Wahabi, tapi berasal dari imam Syiah sendiri. Imam Syiah sendiri lah yang melarang untuk membangun kuburan, sesuatu yang amat digemari oleh Syiah hari ini.
Memang begitulah Syiah hari ini, penuh dengan dusta lagi begitu mudah untuk digiring ke ajaran yang menyimpang dari ajaran para imam mereka.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah mengutusku ke Madinah, lalu berkata: Jangan biarkan ada gambar, hapuslah , dan jangan biarkan ada kubur, ratakan dengan tanah, jangan biarkan ada anjing, bunuhlah. Al Kafi jilid 6 hal 528.
Dari Abu Abdillah berkata: Rasulullah melarang kuburan dijadikan tempat shalat, diduduki, atau dibangun (Tahdzibul Ahkam jilid 1 hal 461, jilid 3 hal 201) dan (Al Istibshar jilid 1 hal482)
Abu Abdillah berkata: Janganlah kalian membangun di atas kuburan, janganlah kalian memberi gambar atap rumah, sesungguhnya Rasulullah membenci hal itu. (Tahzib, jilid 1 hal 461).
Dari Abu Abdillah berkata: Amirul Mukminin berkata: Rasulullah mengutusku untuk merobohkan kuburan dan memecah gambar. (Al Kafi, jilid 6 hal 528) dan (Al Mahasin, hal 614).
Syiah menuduh Wahabi yang melarang membangun kubur, tapi ternyata imam Syiah sendiri juga ikut melarang. Ternyata Syiah memang sudah begitu jauh dari ajaran imamnya.
Syiah harus sadar dan mulai mencari ajaran imam Ahlulbait yang sesungguhnya, tidak hanya pasrah pada para guru yang membawa mereka kepada ajaran yang tidak jelas, yang menyimpang dari ajaran para imam Ahlulbait.
Salah satu contoh penting adalah masalah membangun kuburan. Ketika keluarga Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang keras membangun bangunan di kuburan, melarang membangun kuburan, syiah malah menggalakkan untuk membangun kuburan.
Syiah juga menuduh mereka yang melarang membangun kuburan sebagai Wahabi. Ternyata imam syiah sendiri adalah penganut ajaran Wahabi.
Penganut Syiah lebih memilih untuk jadi pengikut gurunya daripada menjadi pengikut imam Syiah, padahal Syiah meyakini bahwa 12 imam Syiah adalah maksum, terbebas dari kesalahan dan dosa.
Syiah lebih memilih menganut ajaran gurunya, yang menjauhkan mereka dari ajaran imam yang sebenarnya. Dan para guru Syiah sengaja menjauhkan mereka dari ajaran para imam.
Tidak mungkin para guru Syiah tidak tahu tentang ajaran imam mereka, sedangkan Muslim Ahlussunnah yang disebut Wahabi anti Syiah tahu ajaran itu.
sumber : http://www.arrahmah.com/
Label:
arrahmah.com
,
bahaya syi'ah
,
syiah
01.21
Ini 17 Doktrin Ajaran Syiah
Written By Unknown on Selasa, 29 Oktober 2013 | 01.21
TERDAPAT 17 doktrin atau ajaran Syi’ah yang tersembunyi dari kaum muslimin terutama dari golongan ahli sunni (Ahli Sunnah Wal Jammah) sebagai bahagian dari pengamalan doktrin taqiyah(menyembunyikan Syi’ahnya). Ketujuh belas doktrin rahsia ini terdapat dalam kitab-kitab suci Syi’ah seperti kitab Usuhulu Kaafi dan Rijalul Kashi. Ajaran ini juga bertangung-jawab dalam mengubah keaslian dan kesucian Qalamuallah Al Quran ul karim. Berikut adalah antara doktrin-doktrin yang sesat lagi menyesatkan :
- Dunia dengan seluruh isinya adalah milik para imam Syi’ah. Mereka akan memberikan dunia ini kepada siapa yang dikehendaki dan mencabutnya dari siapa yang dikehendaki(Ushulul Kaafi, hal.259, Al-Kulaini, cet. India).Jelas Doktrin semacam ini bertentangan dengan firman Allah SWT QS: Al-A’raf 7: 128,“Sesungguhnya bumi adalah milik Allah, Dia dikaruniakan kepada siapa yang Dia kehendaki”. Kepercayaan Syi’ah diatas menunjukkan penyetaraan kekuasaan para imam Syi’ah dengan Allah dan doktrin ini merupakan aqidah syirik.
- Ali bin Abi Thalib yang diklaim sebagai imam Syi’ah yang pertama dinyatakan sebagai dzat yang pertama dan terakhir, yang dhahir dan yang bathin sebagaimana termaktub dalam surat Al-Hadid, 57: 3 (Rijalul Kashi hal. 138).Doktrin semacam ini jelas merupakan kekafiran Syi’ah yang berdusta atas nama Khalifah Ali bin Abi Thalib. Dengan doktrin semacam ini Syi’ah menempatkan Ali sebagai Tuhan. Dan hal ini sudah pasti merupakan tipu daya Syi’ah terhadap kaum muslimin dan kesucian aqidahnya.
- Para imam Syi’ah merupakan wajah Allah, mata Allah dan tangan-tangan Allah yang membawa rahmat bagi para hamba Allah (Ushulul Kaafi, hal. 83).
- Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib oleh Syi’ah dikatakan menjadi wakil Allah dalam menentukan surga dan neraka, memperoleh sesuatu yang tidak diperoleh oleh manusia sebelumnya, mengetahui yang baik dan yang buruk, mengetahui segala sesuatu secara rinci yang pernah terjadi dahulu maupun yang ghaib (Ushulul Kaafi, hal. 84).
- Keinginan para imam Syi’ah adalah keinginan Allah juga (Ushulul Kaafi, hal. 278).
- Para imam Syi’ah mengetahui kapan datang ajalnya dan mereka sendiri yang menentukan saat kematiannya karena bila imam tidak mengetahui hal-hal semacam itu maka ia tidak berhak menjadi imam (Ushulul Kaafi, hal. 158).
- Para imam Syi’ah mengetahui apapun yang tersembunyi dan dapat mengetahui dan menjawab apa saja bila kita bertanya kepada mereka karena mereka mengetahui hal ghaib sebagaimana yang Allah ketahui (Ushulul Kaafi, hal. 193).
- Allah itu bersifat bada’ yaitu baru mengetahui sesuatu bila sudah terjadi. Akan tetapi para imam Syi’ah telah mengetahui lebih dahulu hal yang belum terjadi (Ushulul Kaafi, hal. 40).Menurut Al-Kulaini (ulama besar ahli hadits Syi’ah), Bahwa Allah tidak mengetahui bahwa Husein bin Ali akan mati terbunuh. Menurut mereka Tuhan pada mulanya tidak tahu karena itu Tuhan membuat ketetapan baru sesuai dengan kondisi yang ada. Akan tetapi imam Syi’ah telah mengetahui apa yang akan terjadi. Oleh sebab itu menurut doktrin Syi’ah Allah bersifatbada’ (Ushulul Kaafi, hal. 232).
- Para imam Syi’ah merupakan gudang ilmu Allah dan juga penerjemah ilmu Allah. Para imam Syi’ah bersifat Ma’sum (Bersih dari kesalahan dan tidak pernah lupa apalagi berbuat Dosa). Allah menyuruh manusia untuk mentaati imam Syi’ah, tidak boleh mengingkarinya dan mereka menjadi hujjah (Argumentasi Kebenaran) Allah atas langit dan bumi (Ushulul Kaafi, hal. 165).
- Para imam Syi’ah sama dengan Rasulullah Saw (Ibid).
- Yang dimaksud para imam Syi’ah adalah Ali bin Abi Thalib, Husein bin Ali, Ali bin Husein, Hassan bin Ali dan Muhammad bin Ali (Ushulul Kaafi, hal. 109)
- Al-Qur’an yang ada sekarang telah berubah, dikurangi dan ditambah (Ushulul Kaafi, hal. 670). Salah satu contoh ayat Al-Qur’an yang dikurangi dari aslinya yaitu ayat Al-Qur’an An-Nisa’: 47, menurut versi Syi’ah berbunyi: “Ya ayyuhalladziina uutul kitaaba aaminuu bimaa nazzalnaa fie ‘Aliyyin nuuran mubiinan”. (Fashlul Khitab, hal. 180).
- Menurut Syi’ah, Al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Nabi Muhammad ada 17 ribu ayat, namun yang tersisa sekarang hanya 6660 ayat (Ushulul Kaafi, hal. 671).
- Menyatakan bahwa Abu Bakar, Umar, Utsman bin Affan, Muawiyah, Aisyah, Hafshah, Hindun, dan Ummul Hakam adalah makhluk yang paling jelek di muka bumi, mereka ini adalah musuh-musuh Allah. Siapa yang tidak memusuhi mereka, maka tidaklah sempurna imannya kepada Allah, Rasul-Nya dan imam-imam Syi’ah (Haqqul Yaqin, hal. 519 oleh Muhammad Baqir Al-Majlisi).
- Menghalalkan nikah Mut’ah, bahkan menurut doktrin Syi’ah orang yang melakukan kawin mut’ah 4 kali derajatnya lebih tinggi dari Nabi Muhammad Saw. (Tafsir Minhajush Shadiqin, hal. 356, oleh Mullah Fathullah Kassani).
- Menghalalkan saling tukar budak perempuan untuk disetubuhi kepada sesama temannya. Kata mereka, imam Ja’far berkata kepada temannya: “Wahai Muhammad, kumpulilah budakku ini sesuka hatimu. Jika engkau sudah tidak suka kembalikan lagi kepadaku.” (Al-Istibshar III, hal. 136, oleh Abu Ja’far Muhammad Hasan At-Thusi).
- Rasulullah dan para sahabat akan dibangkitkan sebelum hari kiamat. Imam Mahdi sebelum hari kiamat akan datang dan dia membongkar kuburan Abu Bakar dan Umar yang ada didekat kuburan Rasulullah. Setelah dihidupkan maka kedua orang ini akan disalib (Haqqul Yaqin, hal. 360, oleh Mullah Muhammad Baqir al-Majlisi). [johneox]
sumber : http://www.islampos.com/
Label:
bahaya syi'ah
,
islampos.com
,
syiah
01.19
sumber : http://www.islampos.com/
Apa Itu Hari Raya Idul Ghadir Syiah? (2 – Habis)
PERTAMA-tama mari kita kaji kembali sebab-sebab “datangnya” hadits ini, mengapa Nabi mengatakan semua ini? Apakah Nabi memerintahkan para shahabat untuk berhenti meneruskan perjalanan hanya karena ingin mengatakan hal ini? Atau karena sebab lain? Yang harus kita ketahui bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sedang dalam perjalanan pulang dari mekah ke Madinah setelah melaksanakan Haji Wada’. Perjalanan dari mekah ke medinah memakan waktu sekitar 6-7 hari, sementara kebiasaan Nabi dalam perjalanan adalah berjalan di waktu malam dan istirahat di siang hari.
Nabi mengatakan hadits ini dalam keadaan beristirahat, dan tidak berhenti hanya untuk mengatakan hadits ini saja. Nabi berhenti dalam perjalanan hanya dalam rangka istirahat, dan sudah menjadi kebiasaannya, karena mustahil Nabi dan rombongannya berjalan 5 hari terus menerus tanpa istirahat karena dalam rombongan mereka terdapat kaum wanita dan mereka sedang dalam perjalanan pulang dari menunaikan ibadah Haji. Oleh karena itu bisa dimaklumi bahwa Nabi berhenti untuk beristirahat di sela-sela perjalanannya.
Yang kedua mengapa Nabi mengatakan hadits ini? Saat mengatakan hadits yang menyangkut Ali ini, yang seperti pendapat Syi’ah bahwa Nabi mengangkat Ali menjadi khalifah, menurut mereka bahwa Ali adalah khalifah yang harus diangkat setelah Nabi wafat. Tapi kami tidak berpendapat demikian, bukan karena kami menolak Ali, tapi hanya semata-mata karena hal ini tidaklah benar, mengapa?
Jika memang benar maksud Nabi adalah mengangkat Ali menjadi khalifah maka Nabi pasti mengumumkan pengangkatan Ali pada hari Arafah saat Haji Wada’, saat semua jamaah Haji berkumpul, saat itulah Nabi mengatakannya, hingga jika Shahabat yang kebetulan tinggal di Madinah mengkhianati isi pengangkatan itu dan tidak mengakui bahwa Ali adalah khalifah yang diangkat Nabi, Shahabat yang tinggal di kota lain bisa menyaksikannya dan mengatakan bahwa benar Nabi telah mengangkat Ali menjadi khalifah setelah Nabi wafat. Mengapa Nabi tidak mengatakan hadits ini saat Haji Wada’? mengapa Nabi tidak menyampaikannya saat Haji wada? Orang Syi’ah berpendapat bahwa Nabi takut!! Takut untuk menyampaikan pengangkatan ini, takut para Shahabat penduduk Madinah akan menolaknya, tapi lucunya, Nabi mengatakan hadits ini pada penduduk Madinah yang ditakutinya. Mengapa terjadi kontradiksi dalam omongan mereka? Nabi takut ditolak Shahabat penduduk Madinah sehingga tidak menyampaikan pengangkatan ini saat Haji Wada’. Tapi hadits ini diucapkan di tengah-tengah Shahabat penduduk Madinah.
Mengapa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam takut kepada para Shahabatnya? Para Shahabatnya yang telah berjuang bersama Nabi mereka tinggalkan anak dan harta untuk berhijrah, mereka berjihad di jalan Allah, mereka berjihad pada perang Badar, Uhud, Khandaq, Hudhaibiyah dan Khaibar. Kemudian setelah itu ikut serta dalam Fathu Makkah dan Perang Tabuk, bagaimana kemudian Nabi takut pada mereka? Takut apa? Takut kalau mereka menolak kekhilafahan Ali.
Pendapat kami tentang sebab Nabi mengatakan hal itu, bahwa Nabi mengatakan hadits ini hanya di depan sahabat penduduk Madinah dan tidak mengatakan hadits ini di depan kaum Muslimin saat Haji Wada’. Hal ini semakin jelas ketika kita mengetahui letak geografis Ghadir Khum yang terletak 250 km dari kota Mekkah. Oleh karena itu, mereka yang tidak mengetahui hal ini dengan mudah mengatakan bahwa Nabi bersabda demikian di depan kaum Muslimin yang sedang menunaikan ibadah Haji. Ibadah Haji dilaksanakan di kota mekkah dan Arafah, bukannya di Ghadir Khum yang jaraknya 250 km dari kota Mekkah. Berarti sabda Nabi ini di depan kaum Muslimin penduduk Madinah.
Mengapa Nabi tidak mengatakan hal ini di depan seluruh jamaah Haji?Para ‘Ulama mengatakan alasannya adalah:
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sebelum berangkat Haji Wada’ telah mengutus Khalid bin Walid untuk berperang di negeri Yaman, setelah menang, Khalid memberitahu Nabi tentang kemenangan itu dan tentangghanimah (harta rampasan perang), Khalid meminta Nabi untuk mengutus seorang shahabatnya untuk mengambil seperlima bagian Nabi. Lalu diutuslah Ali untuk mengambil bagian Nabi tersebut dan Nabi menyuruhnya untuk langsung berangkat ke Makah untuk melaksanakan Haji bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Setalah Ali sampai di sana dibagilah harta rampasan itu, 4/5 untuk para mujahidin yang berperang dan 1/5 lagi dibagi 5 bagian, yaitu 1/5 untuk Allah dan RasulNya, 1/5 untuk ahlulbait kerabat Nabi, 1/5 untuk keluarga Nabi, 1/5 untuk anak yatim, 1/5 untuk fakir miskin, 1/5 lagi untuk ibnu sabil. Setelah itu Ali pergi ke Makkah dengan membawa 1/5 bagian keluarga Nabi. Apa isi 1/5 bagian keluarga Nabi tadi? Isinya adalah hewan ternak, harta benda dan para tawanan baik laki-laki, perempuan, maupun anak kecil. Lalu Ali menggauli salah satu perempuan tawanan tadi, lalu para Shahabat yang mengetahui hal itu marah pada Ali, mereka melihat Ali keluar dari kemahnya setelah mandi. Bagaimana Ali berbuat demikian? Mengambil salah satu tawanan perang untuk dirinya, yang mestinya dibagi di kota Madinah (atau Makkah) dan bukannya di sini.
Salah satu Shahabat yang marah adalah Buraidah ibnul Husain yang melaporkannya pada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, tapi Nabi diam saja, Buraidah mengulanginya untuk kedua dan ketiga kali, lalu Nabi bersabda, “Wahai Buraidah apakah kamu membenci Ali?” Buraidah pun menjawab “Ya, wahai Rasulullah”, Nabi pun menjawab: “Wahai Buraidah janganlah kamu membencinya karena dia berhak mendapat bagian dari harta rampasan perang lebih dari itu”. Lalu Buraidah berkata “Saya tidak lagi membencinya setelah mendengar Nabi melarangku membenci Ali”.(HR. Bukhari, kitab Al Maghazi, Bab Ba’tsu Ali wa Khalid ila al Yaman. No. 4350)
Berarti masalahnya hanyalah intern antara Buraidah dan Ali, mungkin ada juga sahabat lain yang tidak setuju dengan perbuatan Ali seperti itu.
Sebab ke dua: yaitu ketika Ali berangkat dari Yaman menuju Makkah dia membawa unta-unta untuk dijadikan korban. Setelah berjalan beberapa saat, Ali menyuruh Shahabat-Shahabat lain untuk maju terlebih dahulu dan meninggalkan Ali di belakang. Ali melarang mereka menaiki unta-unta rampasan perang dan melarang mereka mengenakan pakaian-pakaian yang juga hasil rampasan perang. Ketika Ali melihat mereka mengendarai unta dan memakai pakaian-pakaian hasil rampasan perang Ali marah pada mereka, dan mereka pun merasa kurang senang. Lalu para Shahabat tadi melaporkan perlakuan Ali pada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.
Dijawab oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bahwa “Sesungguhnya Ali telah berbuat baik kepadamu, maka janganlah kamu membencinya.” Lalu sahabat pun mentaati Nabi dengan mencintai Ali.
Sepulang Nabi dan para Shahabat dari Haji Wada’ dan telah mencapai sebuah tempat yang berjarak 170 km dari kota Medinah dan saat Nabi beristirahat beliau mengumpulkan para Shahabat dan memberitahu mereka bahwa “Barang siapa yang mencintaiku maka dia harus mencintai Ali. Wahai mereka yang tidak senang pada Ali, berhati-hatilah, karena barang siapa yang merasa mencintaiku maka dia harus mencintai Ali.”
Orang Syi’ah berpendapat bahwa makna kata maula adalah pemimpin dan khalifah, dan yang benar makna kata maula adalah kekasih atau orang yang dicintai, dengan bukti sabda Nabi seterusnya “Ya Allah tolonglah siapa saja yang menolong Ali dan musuhilah mereka yang memusuhinya”, ูุงู ู
ู ูุงูุงู ู ุนุงุฏ ู
ู ุนุงุฏุงู sama dengan ู
ู ููุช ู
ููุงู ูุนูู ู
ููุงู makna keduanya adalah sama, inilah kesimpulan peristiwa Ghadir Khum.
Makna kata ู
ููู menurut Ibnul Atsir ada beberapa makna: Rabb, pemilik, penolong, pemberi nikmat, sekutu, pembebas, hamba, anak paman dan ipar.Semuanya adalah makna kata maula tapi mereka bersikeras bahwa maknanya adalah khalifah.
Jika Nabi benar bermaksud mengangkat Ali menjadi khalifah sudah pasti Nabi akan mengangkatnya dengan perkataan yang jelas mengarah pada maksud khalifah, bukan dengan kalimat yang memiliki lebih dari 10 makna. Nabi pasti akan menjelaskannya dengan kalimat yang jelas, misalnya dengan perkataan “Ali adalah khalifah setelah aku wafat.” Jika Nabi bersabda dengan kalimat yang jelas bermaksud khilafah tentunya tidak akan pernah ada perbedaan pendapat, tapi semua ini memang tidak pernah ada.
Sementara jika kata-kata maula diartikan sebagai pemimpin dan penguasa maka akan sangat janggal, seperti dalam ayat
ูุงูููู
ูุง ูุคุฎุฐ ู
ููู
ูุฏูุฉ ููุง ู
ู ุงูุฐูู ููุฑูุง ู
ุฃูุงูู
ุงููุงุฑ ูู ู
ููุงูู
ู ุจุฆุณ ุงูู
ุตูุฑ
“Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempat kamu ialah neraka. Dialah tempat berlindungmu. Dan dia adalah sejahat-jahat tempat kembali.” [QS. Al-Hadid Ayat 15]
Neraka disebut maula di sini karena orang kafir tinggal dalam neraka dan kekal di dalamnya (apakah neraka bisa disebut “pemimpin” orang-orang kafir?). Sementara itu Ali adalah kekasih dan teman setia orang mukmin sejak jaman Nabi hingga Nabi wafat, oleh karena itu Allah berfirman pada Surat Al Maidah ayat 55:
ุฅูู
ุง ู ูููู
ุงููู ู ุฑุณููู ู ุงูุฐูู ุขู
ููุง
“Sesungguhnya kekasih dan penolongmu adalah Allah, RasulNya dan orang-orang beriman…. “ [Qs. al Maidah: 55]
Setiap orang mukmin adalah adalah bersaudara, saling mencintai dan tolong menolong. Maka anggapan mereka bahwa arti kata maula adalah pemimpin adalah tidak benar, oleh karena itu seorang ulama mereka Nuri Ath Thubrusi berkata, “Nabi tidak menjelaskan secara gamblang mengenai pengangkatan Ali sebagai khalifah setelah Nabi wafat pada hari Ghadir Khum tapi hanya mengisyaratkan dengan menggunakan perkataan yang memiliki makna yang sangat banyak yang memerlukan penjelasan apa sebenarnya yang dimaksud oleh Nabi dengan perkataan itu.” [Fashlul Khithab Fi Itsbat Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab hal 205-206]. [sumber: fimadani]
Label:
bahaya syi'ah
,
islampos.com
,
syiah
01.18
sumber : http://www.islampos.com/
Apa Itu Hari Raya Idul Ghadir Syiah? (1)
SYI’AH memiliki hari raya terbesar yang melebihi kebesaran ‘Idul Fithri dan ‘Idul; Adh-ha. Nama hari raya tersebut adalah ‘Idul Ghadir, yakni sebuah peyaraan atas anggapan mereka mengenai pengangkatan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu sebagai khalifah di kebun Ghadir Khum.
Menurut Ulama Syiah, Idul Ghadir adalah hari ketika Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam menunjuk Ali bin Abi Thalib menjadi Khalifah pengganti kepemimpinan setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Yang kata mereka Jibril turun menyampaikan wahyu kepada Nabi berkenaan dengan hal ini, bahkan Idul Ghadir menurut mereka adalah Hari Raya terbesar.
Dalil mereka adalah, seorang bertanya kepada Abu Abdillah alaihis salam: Apakah kaum Muslimin memiliki hari raya selain Jum’at, Idul Adha dan Idul Fitri?, Sang Imam menjawab: Ya, Itulah yang paling agung. “Hari raya apakah itu, saya jadikan diriku sebagai tebusanmu, beritahu saya” Abu Abdillah menjawab: Hari ketika Rasulullah saw menyematkan kepada Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) alaihis salam perkataan “Man Kuntu Maulahu Fa ‘Aliyyun Maulahu”
Silakan lihat kitab ulama Syiah, Idul Ghadir A’zhamul A’yad fil Islam/ Idul Ghadir Hari Raya Terbesar dalam Islam, karangan Sayyid Muhammad Husain Asy Syirazi, terbitan Haiah Ilmiah fi Hauzah Ar Rasul Al A’zham Shallallahu Alaihi wa Sallam fil Kuwait, halaman 12.
Mengupas Peristiwa Ghadir Khum
Dikutip dari risalah tulisan Akhuna Ali Rheza di situs LPPI Makassar, Ghadir Khum adalah sebuah kebun yang terletak antara kota Makkah dan Madinah tepatnya di dekat Juhfah. Peristiwa ini terjadi sepulang dari Haji Wada’ sebelum wafatnya Nabi kira-kira 3 bulan.
Peristiwa ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya:
Dari sahabat Zaid bin Arqam, Rasulullah berdiri di antara kami dan berkhutbah di mata air yang disebut Khum lalu memuji Allah dan bersyukur atas segala Ni’mat-Nya, memberi peringatan serta petuah bagi kami lalu bersabda: “Amma ba’du. Wahai kaum Muslimin, sesungguhnya aku adalah manusia biasa, dan utusan Tuhanku akan datang memanggilku dan aku akan menjawab panggilannya, aku tinggalkan pada kalian dua perkara yang berat, yang pertama adalah Al Qur’an Kitabullah yang membawa petunjuk dan cahaya, ambillah (isi) kitabullah dan peganglah erat-erat.” Zaid berkata, Nabi menyuruh kami agar berpegang teguh pada Al Qur’an dan menyemangati kami lalu bersabda: “Dan Ahlul-Baitku (keluarga dekatku), aku ingatkan kamu kepada Allah atas ahlul baitku, aku ingatkan kamu kepada Allah atas ahlul baitku, aku ingatkan kamu kepada Allah atas ahlul baitku..” (maksudnya jagalah hak ahlul baitku, jagalah kehormatan mereka).
Husain, perawi hadits ini dari Zaid bin Arqam bertanya: “Siapakah Ahlul Bait Nabi, wahai Zaid? Bukankah istri-istri Nabi termasuk keluarga dekatnya?” Zaid menjawab “Ya, (ahlul bait bukan cuma istri Nabi saja) tapi Ahlul Bait Nabi adalah mereka yang diharamkan untuk menerima sedekah.” Husain bertanya, “Siapa saja mereka?” Zaid menjawab, “Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Aqiil, keluarga Ja’far dan keluarga Abbas.” Husain bertanya lagi: “Semua mereka haram untuk menerima sedekah?” Zaid menjawab: “Ya.” [HR. Muslim]
Hadits ini juga diriwayatkan dalam kitab-kitab hadits lain riwayat Imam Ahmad, Nasa’i, Turmuzi, dan lain-lain, dengan tambahan bahwa Nabi berkata “Barangsiapa aku menjadi walinya, maka Ali juga menjadi walinya” juga ada tambahan lafaz lain “Ya Allah cintailah siapa saja yang mencintainya (Ali), musuhilah siapa saja yang memusuhinya (Ali), tolonglah siapa yang menjadi penolongnya (Ali), tinggalkanlah siapa saja yang meninggalkannya, bimbinglah dia agar selalu mengikuti kebenaran”.
Hadits ini bisa dibagi menjadi 4 bagian.
Bagian pertama: riwayat Imam Muslim yang tidak ada tambahan “Barangsiapa aku menjadi walinya maka Ali adalah walinya”.
Bagian kedua: tambahan dari riwayat selain Shahih Muslim yaitu dari riwayat Turmuzi, Ahmad, Nasa’i dan lain-lain yang memuat tambahan “Barangsiapa aku menjadi walinya maka Ali adalah walinya”.
Bagian ketiga: tambahan lain dalam riwayat Turmuzi yang memuat tambahan lafaz: “Ya Allah cintailah siapa saja yang mencintainya (Ali), musuhilah siapa saja yang memusuhinya (Ali).”
Bagian keempat: tambahan riwayat Thabrani dan lain-lain memuat tambahan lafaz: “Tolonglah siapa yang menjadi penolongnya (Ali), tinggalkanlah siapa saja yang meninggalkannya, bimbinglah dia agar selalu mengikuti kebenaran”.
Bagian pertama tercantum dalam kitab Shahih Muslim. Kita menerima semua hadits yang tercantum dalam kitab Shahih Muslim.
Bagian kedua yaitu tambahan “Barangsiapa menjadikanku sebagai penolongnya dan teman dekatnya, maka Ali adalah penolong dan teman dekatnya.” Tambahan ini shahih diriwayatkan oleh Tirmizi dan Imam Ahmad karena hadits shahih tidak hanya terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim saja. Tapi ada beberapa ulama yang mendha’ifkan tambahan ini seperti Ishaq Al Harbi, Ibnu Taymiyah, Ibnu Hazm, dan lain-lain.
Tambahan “Ya Allah tolonglah siapa saja yang menolong Ali dan musuhilah mereka yang memusuhinya” para ulama berbeda pendapat, ada yang menshahihkannya dan ada yang sebaliknya, meangatakan hadits ini dha’if.
Tambahan terakhir: “Tolonglah siapa yang menjadi penolongnya (Ali), tinggalkanlah siapa saja yang meninggalkannya, bimbinglah dia agar selalu mengikuti kebenaran.” Yang terakhir ini adalah semata-mata kebohongan atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam alias tambahan palsu.
Hadits ini digunakan sebagai pegangan bahwa Ali adalah khalifah langsung setelah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat, yang dijadikan pegangan adalah lafaz “Barang siapa menjadikanku sebagai penolongnya dan teman dekatny,a maka Ali adalah penolong dan teman dekatnya.” Mereka berpendapat bahwa arti kata maula adalah pemimpin dan khalifah, berarti Ali adalah khalifah setelah Nabi wafat. [sumber: fimadani]
Label:
bahaya syi'ah
,
islampos.com
,
syiah
00.06
sumber : http://www.voa-islam.com/
Kesesatan Idul Ghodir: Cuma Ada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha
(voa-islam.com) – Tahukah apa itu Idul Ghodir? Idul Ghadir adalah Hari Raya Besar yang diperingati oleh Kaum Syiah. Rencananya, peringatan Hari Ghodir Khum atau Idul Akbar itu akan diadakan hari ini (26/10) di Jakarta. MUI dalam surat resminya menyatakan tidak memberi rekomendasi atas perayaan hari raya tersebut.
“Hari Raya Ghodir adalah rekayasa Syiah yang semakin memperjelas identitas dan perbedaan yang menyimpang,” ujar Guru Besar Sosiologi Agama yang juga dikenal seorang pengkaji dan penulis serius masalah Syiah Prof. Dr.H. Mohammad Baharun.
Prof. Baharun mengatakan, dalam Islam, perayaan besar yang diwariskan Rasulullah Saw menyangkut hari raya dalam Islam hanyalah dua, Idul Fitri dan Idul Adha. “Yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW adalah dua Hari Raya, Idul Fitri dan Idul Adha sebagai syariat yang dilaksanakan umat Islam se Dunia sejak berabad-abad.”
Perayaan Hari Raya Idul Ghodir yang rencananya akan diselenggarakan di Gedung Smesco Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, itu, akan dibubarkan oleh Laskar Majelis Mujahidin yang pagi ini sedang merapat menuju tempat diadakan perayaan tersebut.
Hal senada juga dikatakan Sekretaris Jenderal Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Ustadz Bachtiar Nasir. UBN – begitu beliau akrab disapa, mengecam keras perayaan hari besar Syiah Idul Ghadir yang diselenggarakan hari ini. Dalam rilis yang diterima voa-islam, UBN mengatakan, dalam pandangan mayoritas umat Islam Indonesia yang menganut Ahlussunnah wa Jama’ah, hanya ada dua hari raya besar, yakni hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha.
“Perayaan Idul Ghadir sebagai aktivitas kelompok Syiah Indonesia yang berupaya memecah belah umat Islam. Hal itu disebabkan perayaan Idul Ghadir merupakan pelestarian dan perayaan kebencian dan dendam Syiah kepada para sahabat Nabi Muhammad SAW yang terkemuka, yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan,”jelas UBN.
Perayaan Idul Ghadir ini semakin membuktikan bahwa Syiah memang satu aliran yang secara mendasar berbeda dengan kaum Muslim lainnya. “Penolakan dan penistaan kepada para sahabat Nabi yang utama justru dirayakan sebagai ibadah yang agung menjadi hari raya tersendiri. Mereka menganggap Idul Ghadir adalah hari raya terbesar yang melebihi keagungan ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha,” jelasnya.
Kata Bachtiar, ‘Idul Ghadir adalah sebuah perayaan atas anggapan mereka mengenai pengangkatan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu sebagai khalifah di kebun Ghadir Khum. Atas dasar itu MIUMI meminta pemerintah RI agar menjaga keutuhan dan ketenteraman bangsa dengan tidak memberikan izin pelaksanaan acara tersebut. Serta mengajak umat Islam untuk waspada terhadap segala upaya untuk merusak ajaran Islam dan mengadu domba sesama Muslim dengan jargon ukhuwah.
Ketua Front Anti Aliran Sesat (FAAS) Jatim, Habib Achmad Zein Al-Kaf mengatakan, acara itu justru hanya akan memancing amarah kaum Muslim lainnya.
“Acara tersebut kami nilai sebagai unjuk kekuatan, yang harus kita sikapi dengan menolak dan keberatan diadakannya acara tersebut. Sebab kami hawatir umat Islam akan melawan mereka,“ ujar Achmad Zein Al-Kaf dalam rilis yang dikirim ke redaksi, Kamis malam. [desastian]
Label:
bahaya syi'ah
,
syiah
,
voa-islam.com
23.54
sumber : http://www.islampos.com/
Yang Anda Harus Ketahui Tentang Syiah Zaidiyah
Written By Unknown on Senin, 28 Oktober 2013 | 23.54
Oleh: Mujiburrahman Abu Sumayyah
Bismillah wash shalaatu wassalaamu ‘ala Rasuulillaah wa ‘ala aalihi wa ash-habihi ajma’iin.
Ketika mendengar istilah Zaidiyah, maka yang terpikir oleh kebanyakan kaum muslimin adalah salah satu sekte Syi’ah yang memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah, yang moderat (tidak ghuluw/ tidak berlebih-lebihan terhadap imam ‘Ali) dan yang jauh dari sikap fanatik dan ekstrim, atau ada yang menyebutnya dengan Syi’ah Mu’tadilah. Anggapan-anggapan seperti itu terkadang dijadikan senjata ampuh oleh kalangan Syi’ah atau yang pro dengan Syi’ah untuk semakin meyakinkan (baca: membodohi) kaum muslimin bahwa tidak semua Syi’ah itu sesat, bahkan kafir. Dan (menurut mereka), bahwa penganut sekte Syi’ah yang satu ini banyak berdiam di negeri ini.
Bagi kalangan awwam yang tidak paham terhadap aqidah Syi’ah, dan dirinya sedang menimba ilmu dari orang yang beraqidah Syi’ah atau yang pro dengan Syi’ah, akan mudah dibodohi dengan pernyataan-pernyataan mereka seperti ini. Sehingga, kita sering mendengar dari orang-orang awwam itu berceloteh, “Jangan menuduh kepada setiap penganut Syi’ah di negeri ini dengan sesat, bahkan kafir. Karena selama ini, kami tidak pernah mendapati ajaran dari si fulan yang menyimpang dari al-Qur’an dan hadits. Kami tidak pernah diajari untuk mencela shahabat dan lain-lain.” Dan kata-kata yang semisalnya.
Benarkah anggapan mereka bahwa Zaidiyah dekat dengan Ahlus Sunnah, bersikap moderat dan tidak ekstrim hingga detik ini? Benarkah penganut Syi’ah di negeri ini sebagiannya bermadzhab Zaidiyah (yang kata mereka) tidak sesat? Untuk lebih jelasnya, mari kita simak penjelasan berikut ini. Semoga bermanfaat.
Benarkah anggapan mereka bahwa Zaidiyah dekat dengan Ahlus Sunnah, bersikap moderat dan tidak ekstrim hingga detik ini? Benarkah penganut Syi’ah di negeri ini sebagiannya bermadzhab Zaidiyah (yang kata mereka) tidak sesat? Untuk lebih jelasnya, mari kita simak penjelasan berikut ini. Semoga bermanfaat.
Sekilas Tentang Syi’ah Zaidiyah
Zaidiyah adalah salah satu sekte dari sekian banyak sekte Syi’ah yang dinisbatkan kepada nama pendirinya, yaitu Zaid bin ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Husen bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma (80 – 122 H). Beliau pernah memimpin satu revolusi Syi’ah di Irak melawan orang-orang Umawi pada masa Hisyam bin ‘Abdul Malik. Penduduk Kuffah mendorongnya untuk memimpin revolusi tersebut. Tak lama kemudian, setelah ia maju memimpin pemberontakan, ia ditinggalkan dan dihinakan oleh penduduk Syi’ah di Kuffah karena diketahui ternyata beliau menghormati dan meridhai Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma serta tidak mengutuk keduanya, maka beliau terpaksa berhadapan dengan tentera Umayyah padahal pasukannya hanya sekitar 500 orang terdiri dari pasukan berkuda. Dalam pertempuran yang tidak seimbang tersebut, beliau terkena anak panah di pelipisnya yang menyebabkan kematiannya.
Dalam Minhajus Sunnah an-Nabawiyyah, Ibnu Taimiyyah rahimahullaah mengemukakan bahwa sejak Zaid tampil ke gelanggang politik, Syi’ah terpecah menjadi dua, yaitu golongan Rafidhah dan golongan Zaidiyah. Ketika ditanya mengenai Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Zaid menyatakan simpatinya kepada kedua shahabat itu dan beliau mendo’akan keduanya. Sekelompok dari pengikutnya kemudian meninggalkan Zaid. Kemudia Zaid berkata kepada mereka, “Rafadhtumuunii?” (Apakah kalian menyempal dariku?) Sejak mereka menyempal dari Zaid itu, istilah Rafidhah muncul. Adapun kaum Syi’ah yang tetap setia kepada Zaid, mereka itu diberi nama Zaidiyah, artinya: yang memihak kepada Zaid. [1]
Adapun Ibnu Katsir rahimahullaah menceritakan, pada suatu saat kaum Syi’ah berkumpul bersama Zaid. Mereka bertanya kepada Zaid, “Apa maksud perkataan anda, Allah memberi rahmat kepada anda pada (diri) Abu Bakar dan ‘Umar?” Zaid menjawab, “Semoga Allah mengampuni Abu Bakar dan ‘Umar. Aku tidak pernah mendengar seorang pun dari keluargaku yang berlepas tangan dari mereka berdua. Aku tidak pernah mengatakan tentang mereka kecuali yang baik-baik. Aku ingin mengajak anda kembali kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul, menghidupkan sunnah Nabi dan menumpas kebid’ahan. Jika kalian bersedia mendengarkan, kalian dan aku akan memperoleh kebaikan. Akan tetapi apabila kalian membangkang, maka aku bukanlah penolong kalian.”
Mendengar nasihat itu, kontan orang-orang Syi’ah itu bubar meninggalkan Zaid. Mereka menarik kembali bai’at mereka. Sejak hari itu, mereka disebut kaum Rafidhah. Adapun orang-orang yang mendengarkan dan menerima nasihat Zaid, mereka disebut Zaidiyah. Penduduk Kuffah umumnya penganut paham Rafidhah, sedangkan warga Makkah umumnya pengikut madzhab Zaidiyah. Baiknya, kaum Zaidiyah tetap menghargai Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma. Jeleknya, mereka lebih mengutamakan ‘Ali daripada kedua shahabat tadi. Padahal Ali tidak lebih utama dari Abu Bakar dan ’Umar Radhiyallahu ‘anhuma. Bahkan, mungkin tidak lebih utama daripada ’Utsman, menurut paham Ahlus Sunnah yang shahih. [2]
Syi’ah Zaidiyah Hari Ini
Setelah kita mengetahui tentang Syi’ah Zaidiyah secara sekilas, maka kita mengetahui bahwa pendiri sekte ini (Imam Zaid), sangat menghormati dan meridhai kepemimpinan Abu Bakar dan ‘Umar, berbeda halnya dengan sikap Rafidhah yang tidak mengakui kepemimpinan keduanya, bahkan mencela dan mengkafirkan keduanya serta para shahabat yang lainnya. Maka salah satu alasan inilah, kemudian Zaidiyah dikatakan memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah.
Namun, yang harus menjadi catatan bagi kita semua, bahwa ternyata Zaidiyah hari ini berbeda dengan Zaidiyah pada kurun pertama. Sehingga, anggapan kaum muslimin yang mengatakan bahwa Zaidiyah hari ini tetap memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah tidak bisa dibenarkan. Karena kita ketahui, bahwa sejak awal kemunculan aliran Syi’ah, maka sejak saat itu pula aliran ini terus berpecah belah menjadi berpuluh-puluh, bahkan (ada yang mengatakan) sampai beratus-ratus gara-gara perbedaan pemikiran,[3] dan kemungkinan termasuk Zaidiyah ini juga berpecah belah menjadi beberapa kelompok.[4] Apalagi saat ini Zaidiyah sudah terkena pengaruh Rafidhah.
Hal inilah yang mendorong Syaikh Muhammad Abu Zahroh untuk mengatakan, “Madzhab Zaidiyah sudah melemah. Madzhab-madzhab Syi’ah yang lain berusaha untuk mengalahkannya, melibasnya dan menyuntiknya dengan ajaran-ajarannya, karena itulah orang-orang yang membawa nama madzhab (Zaidiyah) ini sesudah itu, tidak memperbolehkan kepemimpinan orang yang mafdhul. Mereka telah dianggap sebagai bagian dari Syi’ah dan mereka juga menolak kepemimpinan asy-syaikhain, Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma. Dengan begitu telah hilanglah keistimewaan yang paling menonjol dari Zaidiyah fase pertama.”
Dari aqidah Zaidiyah yang sudah terpengaruh dengan Rafidhah, ternyata berdampak pada sikap mereka terhadap Ahlus Sunnah. Dalam buku Khiyanaatusy Syi’ah wa ‘Atsaruhaa fii Hazaaimil Ummah al Islamiyyah (Pengkhianatan-pengkhianat an Syi’ah dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Umat Islam), DR. Imad ‘Ali Abdus Sami’ menyebutkan bahwa pada masa Turki ‘Utsmani, mereka menduduki jabatan-jabatan penting pemerintahan di Yaman. Sehingga ketika orang-orang Turki meninggalkan Yaman pada tahun 1337 H, orang-orang Ahlus Sunnah khawatir terhadap Zaidiyah yang berkeinginan untuk menguasai negara mereka.
Kekhawatiran itu ternyata menjadi sebuah kenyataan. Kalangan Zaidiyah berusaha melakukan penyerangan terhadap kalangan Ahlus Sunnah, sehingga sebagian orang-orang Ahlus Sunnah pun berusaha memberikan perlawanan, akan tetapi mereka tidak dapat bersatu. Pemimpin Zaidiyah di Yaman ketika itu menyerang mereka bersama dengan pasukan dari kabilah-kabilah Zaidiyah dan terjadilah pertempuran hebat selama 6 bulan. Orang-orang Ahlus Sunnah pun mengalami kekalahan dan mereka diharuskan tunduk kepada hukum imam dan kekuasaan Zaidiyah.
Berapa banyak, mereka menyiksa, menyakiti dan membunuh kalangan Ahlus Sunnah di Yaman. Bahkan ulama’ Ahlus Sunnah pun tak luput dari serangan mereka, seperti yang mereka lakukan terhadap syaikh Muhammad Shaleh al-Akhram, dimana mereka memenjarakannya sementara dirinya sudah tua renta. Mereka juga menculik syaikh Muqbil bin ‘Abdullah dan membunuh al-‘Allaamah Muhammad bin ‘Ali al-‘Imrani ash-Shan’ani, salah seorang murid Imam Syaukani yang terkenal.
Semoga kaum muslimin Ahlus Sunnah tidak tertipu sehingga mengatakan bahwa Zaidiyah adalah kelompok Syi’ah yang paling dekat dengan Ahlus Sunnah, (karena sikap moderat dan jauh dari sikap fanatik dan ekstrim) setelah kita mengetahui kejahatan mereka terhadap Ahlus Sunnah di atas. [6]
Kekhawatiran itu ternyata menjadi sebuah kenyataan. Kalangan Zaidiyah berusaha melakukan penyerangan terhadap kalangan Ahlus Sunnah, sehingga sebagian orang-orang Ahlus Sunnah pun berusaha memberikan perlawanan, akan tetapi mereka tidak dapat bersatu. Pemimpin Zaidiyah di Yaman ketika itu menyerang mereka bersama dengan pasukan dari kabilah-kabilah Zaidiyah dan terjadilah pertempuran hebat selama 6 bulan. Orang-orang Ahlus Sunnah pun mengalami kekalahan dan mereka diharuskan tunduk kepada hukum imam dan kekuasaan Zaidiyah.
Berapa banyak, mereka menyiksa, menyakiti dan membunuh kalangan Ahlus Sunnah di Yaman. Bahkan ulama’ Ahlus Sunnah pun tak luput dari serangan mereka, seperti yang mereka lakukan terhadap syaikh Muhammad Shaleh al-Akhram, dimana mereka memenjarakannya sementara dirinya sudah tua renta. Mereka juga menculik syaikh Muqbil bin ‘Abdullah dan membunuh al-‘Allaamah Muhammad bin ‘Ali al-‘Imrani ash-Shan’ani, salah seorang murid Imam Syaukani yang terkenal.
Semoga kaum muslimin Ahlus Sunnah tidak tertipu sehingga mengatakan bahwa Zaidiyah adalah kelompok Syi’ah yang paling dekat dengan Ahlus Sunnah, (karena sikap moderat dan jauh dari sikap fanatik dan ekstrim) setelah kita mengetahui kejahatan mereka terhadap Ahlus Sunnah di atas. [6]
Syi’ah Zaidiyah di Indonesia?
Setelah kita memahami, bahwa ternyata keberadaan Syi’ah Zaidiyah saat ini ternyata tidak lebih baik daripada Syi’ah Rafidhah, baik dalam pemikirannya ataupun sikap mereka terhadap Ahlus Sunnah, maka muncul pernyataan yang menggelikan, bahwa di negeri ini banyak yang menganut Syi’ah yang tidak ekstrim.
Sungguh, itu hanyalah pernyataan orang-orang jahil (baca: awwam/goblok) dan orang-orang yang berusaha menyesatkan kaum muslimin lewat opini mereka.
Setelah mendapatkan penjelasan diatas, adakah salah satu sekte Syi’ah yang lain yang tidak ektrim yang dekat dengan Ahlus Sunnah?
Saya yakin, jawaban mereka sebenarnya hanyalah tertuju pada Zaidiyah. Tidak ada kelompok Syi’ah yang lain yang mereka anggap lebih moderat dari Zaidiyah. Seandainya saja Zaidiyah memang memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah, maka muncul pertanyaan lagi, apakah Zaidiyah ini ada di Indonesia?
Saya yakin, jawaban mereka sebenarnya hanyalah tertuju pada Zaidiyah. Tidak ada kelompok Syi’ah yang lain yang mereka anggap lebih moderat dari Zaidiyah. Seandainya saja Zaidiyah memang memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah, maka muncul pertanyaan lagi, apakah Zaidiyah ini ada di Indonesia?
Orang-orang jahil dan para penyesat umat ini akan memaksakan diri dengan mengatakan bahwa penganut Syi’ah tersebut ada di negeri ini juga.
Maka, saya katakan kepada juhala’ (kumpulan orang-orang bodoh/dungu) dan ahlu dhalal (kumpulan orang-orang sesat), “Ketahuilah, bahwa keberadaan penganut Syi’ah Zaidiyah hari ini ada di Yaman, itupun tidak banyak. Dan sebagian kecil lagi tersebar ke wilayah timur di negara-negara Hazr ( wilayah Afghanistan ), Dailam, Thobristan dan Jailan, sedangkan ke wilayah barat tersebar sampai negara-negara Hijaz dan Mesir. Adapun penganut Syi’ah di negeri ini adalah bermadzhab Syi’ah Imamiyyah Itsna ’Asyariyah Ja’fariyah Khumainiyah, atau lebih dikenal dengan Rafidhah yang berpusat di Iran. Namun, untuk mengelabuhi kaum muslimin, saat ini mereka menggunakan nama ”Madzhab Ahlul Bait”. Saya perjelas lagi, TIDAK ADA SYI’AH DI NEGERI INI KECUALI RAFIDHAH IRAN.” [7]
Maka, saya katakan kepada juhala’ (kumpulan orang-orang bodoh/dungu) dan ahlu dhalal (kumpulan orang-orang sesat), “Ketahuilah, bahwa keberadaan penganut Syi’ah Zaidiyah hari ini ada di Yaman, itupun tidak banyak. Dan sebagian kecil lagi tersebar ke wilayah timur di negara-negara Hazr ( wilayah Afghanistan ), Dailam, Thobristan dan Jailan, sedangkan ke wilayah barat tersebar sampai negara-negara Hijaz dan Mesir. Adapun penganut Syi’ah di negeri ini adalah bermadzhab Syi’ah Imamiyyah Itsna ’Asyariyah Ja’fariyah Khumainiyah, atau lebih dikenal dengan Rafidhah yang berpusat di Iran. Namun, untuk mengelabuhi kaum muslimin, saat ini mereka menggunakan nama ”Madzhab Ahlul Bait”. Saya perjelas lagi, TIDAK ADA SYI’AH DI NEGERI INI KECUALI RAFIDHAH IRAN.” [7]
Allaahummaa arinal haqqa haqqa war zuqnattibaa’ah wa arinal baathila baathila warzaqnajtinaabah. Aamiin yaa Rabbal ’aalamiin.
Wallaahu ta’ala a’lam bish shawwab.
ket:
[1] Minhaj as-Sunnah an Nabawiyah, Ibnu Taimiyyah, juz I, hal.8.
[2] Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, juz 9, hal. 230 dan 329.
[3] Baca: Menyingkap Hakekat Aqidah Syi’ah, ‘Abdullah bin Muhammad.
[4]Sekte pecahan Zaidiyah diantaranya: Jarudiyah, Sulaimaniyah, Sholihiyah, Batriah.
[5]Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah, Muhammad Abu Zahrah, 1/51.
[6] Pengkhianatan-pengkhianata n Syi’ah dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Umat Islam, 181-182.
[7]Silakan baca: Lembaga Pengkajian dan Penelitian WAMY, Gerakan Keagamaan dan Pemikiran(Mausuah al-Muyassarah fi al-Adyan wa al-Mazahib al-Muashirah.
Label:
bahaya syi'ah
,
islampos.com
,
syiah
23.50
sumber : http://www.islampos.com/
Mut’ah, Asalnya dari Nabi Palsu Majusi Bernama Mazdak
AGAMA syiah, dalam hal nikah mut’ah pada dasarnya adalah meneruskan kebejatan ajaran nabi palsu Majusi bernama Mazdak yang menghalalkan wanita dan harta sebagai milik bersama, ibarat rumput dan air ; siapa saja boleh mengambil, dan siapa saja boleh memakai. (Lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, NABI-NABI PALSU DAN PARA PENYESAT UMAT, Pustaka Al-Kautsar, Jakata).
Dari sini dapat dipahami, agama syiah pada hakekatnya adalah keyakinan Majusi berbaju Islam.
Dan dari situlah dapat dibantah perkataan dedengkot syiah yang berkilah bahwa Syiah tidak sesat karena boleh berhaji dan masuk Masjid Haram Makkah.
Bantahannya adalah : bolehnya orang Syiah masuk Masjidil Haram bukan karena tidak sesat, tetapi hanya karena Syiah itu covernya adalah Islam. Sebagaimana dedengkot munafiq Abdullah bin Ubay bin Salul zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam boleh masuk ke Masjid Haram (Nabawi) di Madinah bahkan shalat di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karenacovernya adalah Islam, walau isinya adalah kafir.
Itu bukan karena orang munafiq itu tidak sesat, bahkan sesat lagi kafir, namun covernya adalah Islam. Demikian pula syiah, sesat lagi kafir karena isinya adalah keyakinan Majusi namun covernya adalah Islam. [nahi munkar]
sumber : http://www.islampos.com/
Label:
bahaya syi'ah
,
islampos.com
,
syiah












