-

-
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label doa dan dzikir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label doa dan dzikir. Tampilkan semua postingan

Keutamaan Dzikir 'Subhaanallaah al-'Adziimi Wabihamdihi'

Written By Unknown on Sabtu, 05 April 2014 | 03.07



Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Menyebut nama Allah adalah nikmat yang besar dan karunia yang agung. Berdzikir kepada-Nya membuat hati tenang dan jiwa tentram. Ruh juga akan hidup dan sehat dengannya. Sehingga, dalam kehidupannya yang diwarnai suka & duka, peluang & tantangan, seorang hamba sangat butuh kepada dzikrullah.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam permisalan antara hati orang yang berdzikir dan tidak berdzikir, “Perumpamaan orang yang berdzikir dengan orang tidak berdzikir adalah seperti orang hidup dan orang mati.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahihnya, dari hadits Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu 'Anhu)
Dzikir mengundang cinta Allah dan keridhaan-Nya. Dzikir juga menjadi sarana penghapus kesalahan dan dosa. Selain itu, dzikir bisa menjadi sebab berlipatnya pahala dan memperberat timbangan kebaikan.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِى ، فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى ، وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ 
Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ : سُبْحَانَ اللَّهِ ، وبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
"Dua kalimat yang ringan diucapkan lisan, berat ditimbangan, dan dicintai oleh Al-Rahman (Allah): Subhaanallaahi Wa Bihamdihi Subhaanallaahil 'Adzim." (HR. Muttafaq 'Alaih)
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
"Siapa yang mengucapkan: Subhanallah wa Bihamdihi (Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya) sebanyak seratus kali, maka dihapuskan segala kesalahan (dosa)-Nya walaupun sebanyak buih dilaut." (Muttafaq 'alaih)
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam dalam Taudhih al-Ahkam menjelaskan tentang fadhilahnya, "Maka barangsiapa yang menyucikan Allah (bertasbih) dan memuji-Nya (tahmid) sebanyak 100 kali pada pagi dan petang hari, niscaya mereka akan memperoleh pahala yang sangat besar; berupa diampuninya seluruh dosa dan kesalahannya meskipun jumlahnya amat banyak seperti buih di lautan. Hal ini adalah merupakan keutamaan yang mulia dan pemberian yang melimpah."
Beliau melanjutkan, "Para ulama menyempitkan makna dari dosa-dosa yang akan diampuni dengan zikir ini, yaitu dosa-dosa kecil saja. Adapun dosa-dosa besar, tidak ada yang dapat menghapusnya kecuali taubat nasuha. Tetapi Imam al-Nawawi berkata: apabila seseorang tidak memiliki dosa-dosa kecil, maka diharapkan zikir tersebut dapat meringankan dosa-dosa besar yang telah ia lakukan."
. . . Dzikir mengundang cinta Allah dan keridhaan-Nya. Dzikir juga menjadi sarana penghapus kesalahan dan dosa. . .
Keutamaan Subhaanallaah al-'Adziim Wabihamdihi
Di antara kalimat dzikir yang disyariatkan memiliki keutamaan khusus, ditanamkan satu pohon kurma di surga untuk pembacanya. Kalimat dzikir tersebut adalah: Subhaanallaah al-'Adziim Wabihamdihi.
Dari Jabir Radhiyallahu 'Anhu, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda:
مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الْجَنَّةِ                 
"Siapa yang membaca Subhaanallaah al-'Adziim Wabihamdihi, maka akan ditanamkan untuknya satu pohon kurma di surga." (HR. Al-TirmiDzi; beliau berkata: hadits hasan shahih gharib. Dishahihkan juga oleh Ibnu Hibban dena al-Hakim dengan disepakati imam Al-Dzahabi)
Kalimat pendek dan ringan diucapkan lisan. Namun bisa menghasilkan sesuatu yang sangat istimewa di kehidupan akhirat kita. Dari satu kalimatnya ditanamkan satu pohon kurma di surga. Bagi perindu surga tidak boleh meremehkannya. Setiap kebaikan yang mampu dan berkesempatan mengamalkannya agar ia kerjakan, walaupun dalam bentuk kebaikan yang sangat kecil dan ringan. Karena terkadang, seseorang dirahmati dan dimasukkan surga karena sebab amal-amal ringannya. “Surga lebih dekat kepada salah seorang kalian daripada tali sandalnya,” bunyi hadits riwayat al-Bukhari. Wallahu a’lam. [PurWD/voa-islam.com]
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/doa/2014/03/28/29676/keutamaan-dzikir-subhaanallaah-aladziimi-wabihamdihi/#sthash.pjvZTRHS.dpuf

sumber : http://www.voa-islam.com/read/doa/2014/03/28/29676/keutamaan-dzikir-subhaanallaah-aladziimi-wabihamdihi/#sthash.pjvZTRHS.dpbs

Doa untuk istri tercinta

Written By Unknown on Kamis, 31 Oktober 2013 | 01.34

(Arrahmah.com) – Sudah menjadi rahasia umum bahwa Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘ahuma adalah istri yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam.
Meski demikian, saat beliau shallallahu ‘alaihi wa salam wafat, beliau tidak mewariskan harta kekayaan kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha. Beliau hanya mewariskan ilmu syariat dan akhlak pergaulan yang sangat berkesan bagi Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Di antara ilmu yang beliau wariskan kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha adalah doa-doa penting untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dalam sebuah hadits, Aisyah radhiyallahu ‘anha bercerita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam mengajarkan kepadanya doa berikut ini:
اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآَجِلِهِ مَا عَلِمْتُ مِنْهُ، وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ تَقْضِيهِ لِي خَيْرًا ”
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu seluruh kebaikan, yang disegerakan (di dunia) maupun yang diakhirkan (di akhirat), yang saya ketahui maupun yang tidak saya ketahui.
Dan aku berlindung kepada-Mu dari seluruh keburukan, yang disegerakan (di dunia) maupun yang diakhirkan (di akhirat), yang saya ketahui maupun yang tidak saya ketahui.
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dari kebaikan-kebaikan yang pernah dimintakan oleh hamba-Mu dan nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam kepada-Mu.
Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan-keburukan yang hamba-Mu dan nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam berlindung kepada-Mu darinya.
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga dan segala hal yang mendekatkan kepadanya, baik berupa ucapan maupun perbuatan.
Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala hal yang mendekatkan kepadanya, baik berupa ucapan maupun perbuatan.
Dan aku memohon kepada-Mu agar menjadikan setiap ketetapan (takdir) yang Engkau tetapkan untukku sebagai (takdir) kebaikan.”  (HR. Ahmad no. 25019, Ibnu Majah no. 3846, Ibnu Abi Syaibah no. 29345, Ibnu Hibban no. 869, Abu Ya’la no. 4473 dan Ath-Thahawi dalam Syarh Musykil Al-Atsar no. 6026. Hadits shahih)
Sebuah doa yang sangat indah dan memuat semua hal yang kita butuhkan dalam kehidupan kita, di dunia maupun di akhirat kelak.
Jika kita seorang suami, sudah selayaknya kita ajarkan doa ini kepada istri kita.
Jika kita seorang istri, sudah selayaknya kita ajarkan doa ini kepada suami kita.
Jika kita seorang orang tua, sudah selayaknya kita ajarkan doa ini kepada anak kita.
Jika kita seorang anak, sudah selayaknya kita ajarkan doa ini kepada orang tua kita.
Jika kita seorang guru, sudah selayaknya kita ajarkan doa ini kepada murid kita.
Jika kita seorang muslim, sudah selayaknya kita ajarkan doa ini kepada sesama muslim.
(muhib almajdi/arrahmah.com)
sumber : http://www.arrahmah.com/

Doa agar diri pribadi dan anak keturunan senantiasa menjaga shalat

(Arrahmah.com) – Mi’raj nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam dari Baitul Maqdis di kota Al-Quds, Palestina menuju langit ketujuh dan Sidratul Muntaha merupakan peristiwa sejarah yang sangat agung. Bukan saja bagi nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam, namun juga bagi seluruh umatnya. Pada peristiwa itulah Allah Ta’ala mewahyukan perintah shalat wajib lima waktu dalam sehari-semalam kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam.
Mi’raj membawa “oleh-oleh” perintah syariat yang sangat agung, yaitu shalat lima waktu dalam sehari-semalam. Shalat wajib diwahyukan secara langsung oleh Allah Ta’ala kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam tanpa melalui perantaraan malaikat Jibril ‘alaihis salam. Waktu dan tempat menerimanya pun sangat istimewa karena nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam langsung menghadap Allah Ta’ala di Sidratul Muntaha.
Shalat wajib lima waktu adalah rukun Islam terpenting setelah dua kalimat syahadat. Menegakkan shalat wajib adalah perkara yang membedakan antara seorang muslim dan seorang kafir. Seorang muslim adalah orang yang menegakkan shalat. Orang yang tidak menegakkan shalat nyaris tidak ada bedanya dengan orang kafir dan orang musyrik, sebab orang kafir dan orang musyrik juga tidak melaksanakan shalat. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih:
عَنِ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ»
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Batas antara seseorang dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 82, Abu Daud no. 4678, Tirmidzi no. 2620, Ibnu Majah no. 1078 dan Ahmad no. 15183)
Begitu pentingnya shalat wajib sehingga Al-Qur’an dan as-sunnah berulang-ulang memerintahkan kaum muslimin untuk menjaganya. Bahkan para nabi dan rasul pun sampai berdoa kepada Allah Ta’ala agar dikaruniai kemampuan menjaga shalat wajib. Para nabi dan rasul berdoa untuk diri mereka sendiri dan anak keturunan mereka. Sebagaimana doa yang dibaca oleh nabi Ibrahim ‘alaihis salam: 
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
Wahai Rabbku, jadikanlah aku dan anak keturunanku orang yang menegakkan shalat. Wahai Rabb kami, terimalah doa kami!” (QS. Ibrahim [14]: 40)
Menegakkan shalat bukanlah mengerjakan shalat secara asal-asalan. Menegakkan shalat adalah menunaikan shalat wajib dengan memenuhi syarat-syarat, rukun-rukun, sunnah-sunnah dan adab-adabnya, menunaikannya di awal waktu, secara berjama’ah di masjid, dengan khusyu’ dan thuma’ninah. Itulah tingkatan shalat yang paling tinggi dan diperintahkan oleh Al-Qur’an dan as-sunnah. Wallahu a’lam bish-shawab. (muhibalmajdi/arrahmah.com)
sumber : http://www.arrahmah.com/

Doa memohon keteguhan iman dan kebulatan tekad

(Arrahmah.com) – Dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam mengajarkan kepada kami beberapa kalimat doa untuk kami baca dalam shalat kami atau selesai shalat kami, yaitu:
اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَأَسْأَلُكَ عَزِيمَةَ الرُّشْدِ، وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ، وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا، وَلِسَانًا صَادِقًا، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ “
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam perkara (keimanan), aku memohon kepada-Mu tekad bulat yang benar, aku memohon kepada-Mu rasa syukur atas nikmat-Mu dan ibadah dengan baik kepada-Mu, aku memohon kepada-Mu hati yang bersih dan lisan yang jujur. Aku memohon ampunan-Mua atas (dosa-dosaku) yang Engkau pasti mengetahuinya, aku memohon kepada-Mu dari kebaikan yang Engkau pasti mengetahuinya dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang Engkau pasti mengetahuinya.” (HR. Ahmad no. 17133, Tirmidzi no.3407, An-Nasai no. 1304, Ibnu Hibban no. 935, Ath-Thabarani no. 7157 dan lain-lain. Syaikh Syu’aib al-Arnauth berkata: Hadits hasan dengan banyaknya sanadnya)
sumber : http://www.arrahmah.com/

Doa mendapatkan anak-anak dan pasangan hidup yang shalih-shalihat

(Arrahmah.com) – Bagi seorang muslim, keluarga adalah pihak pertama yang paling berpengaruh dalam kehidupannya. Jika seorang muslim memiliki keluarga yang shalih, maka kehidupannya akan lebih mudah untuk diarahkan kepada keshalihan. Demikian pula apabila keluarganya ahli maksiat, maka kemungkinannya untuk terseret kepada kemaksiatan sangatlah besar.
Anak-anak yang shalih dan shalihat, serta istri yang shalihat dan suami yang shalih, adalah unsur-unsur yang biasa membentuk sebuah keluarga shalih. Terkadang ditambah dengan kehadiran mertua yang shalih dan shalihat, atau pembantu yang shalih dan shalihat. Membentuk keluarga yang shalih memerlukan kerja keras dan kerja sama semua anggota keluarga. Meskipun tanggung jawab terbesar tetap berada di pundak seorang ayah dan suami.
Dalam hal ini, Al-Qur’an telah mengajarkan beberapa doa yang mengarah kepada pembentukan keluarga yang shalih. Di antaranya adalah doa yang biasa dibaca oleh nabi Zakaria ‘alahis salam:
رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
“Wahai Rabbku, karuniakanlah kepadaku dari sisi-Mu anak keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengarkan doa.” (QS. Ali Imran [3]: 38)
Juga doa yang biasa dibaca oleh ibadurrahman, hamba-hamba Ar-Rahman:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Wahai Rabb kami, karuniakanlah kepada kami dari pasangan-pasangan hidup kami dan anak keturunan kami penyejuk hati dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan [25]: 74)
Dan doa yang dibaca oleh nabi Ibrahim ‘alaihis salam:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Wahai Rabbku, karuniakanlah kepadaku anak keturunan yang shalih.” (QS. Ash-Shaaffat [37]: 100Wallahu a’lam bish-shawab.

sumber : http://www.arrahmah.com/
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. infokuislam - Muhammad Fakhrial
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger